Keesokan paginya, matahari menyelinap masuk melalui celah gorden apartemen Vior. Kepalanya terasa berat, sisa tangisan semalam masih membekas di kelopak matanya yang bengkak. Vior enggan beranjak. Ia sudah memutuskan untuk mengambil cuti sakit hari ini. Ia tidak siap bertemu Elian, atau siapa pun di kantor.Namun, suara bel pintunya yang berbunyi terus-menerus memaksa Vior untuk bangkit. Dengan langkah gontai dan rambut berantakan, ia membuka pintu.Di sana, Elian berdiri. Penampilannya jauh dari kesan CEO yang biasanya rapi, kemejanya sedikit kusut, matanya merah karena kurang tidur, dan ia memegang sekotak bubur ayam serta beberapa bingkisan buah."Aku tahu kamu tidak masuk hari ini, kamu terlihat pucat dan tidak sehat sejak kemarin" suara Elian parau. Ia tidak berusaha menerobos masuk, ia hanya berdiri diam, tampak sangat tidak berdaya.Vior menatapnya dengan tatapan datar, lalu hendak menutup pintu. "Saya tidak mau bicara dengan Anda, Pak Elian.""Vior, tunggu," Elian menahan pin
Baca selengkapnya