Langkah kaki Elian terasa berat namun tetap terukur saat ia mendekati Vior dan Vincent di lobi. Bagi Vior, setiap detak sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti ancaman yang akan meledak. Ia sudah menyiapkan diri untuk menghadapi amarah atau setidaknya tatapan tajam yang biasa Elian tunjukkan saat merasa terancam."Pak Elian, selamat sore," sapa Vincent dengan nada yang sangat sopan, sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat.Elian berhenti tepat di hadapan mereka. Ia menatap Vincent, lalu beralih ke arah Vior. Namun, alih-alih meledak, wajah pria itu justru tampak netral, hampir datar. Ia hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang terlalu tipis untuk disebut sebagai keramahan, namun cukup untuk menutupi gejolak apa pun yang mungkin ada di balik dadanya."Selamat sore, Vincent," jawab Elian tenang. Ia melirik Vior sejenak, tatapannya menyapu wajah gadis itu tanpa ada jejak tuduhan. "Kalian baru kembali dari makan siang?""Iya, Pak. Syuting tadi berjalan lancar, jadi ka
Read more