"Vior saja kah yang diajak makan siang?" Sarah melontarkan candaan ringan dari ujung mejanya, matanya mengerling jenaka."Heh, mengganggu saja!" Pak Rizal menimpali dengan tawa khasnya, membuat suasana ruangan yang tadinya tegang oleh kehadiran Elian kembali mencair.Vior berusaha bersikap biasa, menampilkan senyum canggung yang dipaksakan. Padahal, di balik topeng ketenangannya, hatinya bergemuruh hebat. Pesan dari Enzy masih menari-nari di layar ingatannya, seolah menghantui setiap napasnya."Saya makan siang bareng Sarah saja, Pak. Iya kan, Sarah?" Vior menatap Sarah dengan kode tipis—sebuah tatapan yang menyiratkan kebutuhan mendesak untuk berbagi. Untungnya, radar sosial Sarah sangat peka.Elian terdiam sejenak, menatap Vior dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Jangan terlalu lama istirahatnya," jawab Elian singkat sebelum ia berbalik menuju lift.Begitu pintu lift tertutup, Sarah langsung melesat ke meja Vior. "Kenapa? Lagi berantem
Baca selengkapnya