Dunia luar ternyata jauh lebih luas daripada yang pernah dibayangkan Elian selama hidupnya. Pagi itu, Elian terbangun di apartemen Vior bukan oleh dering alarm kantor yang menuntutnya untuk segera terjun ke medan perang korporasi, melainkan oleh aroma kopi yang samar-samar tercium dari dapur kecil. Sinar matahari pagi masuk menembus celah gorden, menyinari debu-debu yang beterbangan dengan tenang. Tidak ada jadwal rapat, tidak ada panggilan dari para direksi, dan yang paling melegakan, tidak ada lagi beban nama besar Baskara yang harus ia pikul di pundaknya.Ia bangkit, berjalan menuju dapur, dan menemukan Vior sedang menata dua cangkir di meja kayu sederhana. Gadis itu menoleh, tersenyum—sebuah senyuman yang tidak lagi dihiasi oleh rasa takut atau keterpaksaan."Selamat pagi," ucap Vior lembut. "Kopinya agak sedikit gosong, aku masih menyesuaikan diri dengan kompor ini."Elian tertawa—sebuah suara yang jarang ia keluarkan dalam beberapa tahun terakhir. Ia mend
Read more