LOGIN“Ini kayanya aku ga sengaja terantuk pintu mas, tadi pas jalan gak liat-liat." Setelah kembali sadar oleh pertanyaan sang kakak ia pun buru-buru memberi alasan yang masuk akal.
Namun Angga tak langsung percaya begitu saja, ia bisa melihat ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan di matanya, seperti ada kegelisahan, dan juga kekecewaan. Tentu saja ia percaya sudah terjadi sesuatu pada Kania, sebab tidak biasanya perempuan itu pulang ke rumah begitu saja seperti ini. Tidak m"Shit! Perempuan ini berani sekali main blokir kaya gini." Ia menghembuskan napasnya, namun hasratnya untuk menariknya justru semakin kuat. "Ada apa sih, mas? Mukamu masam gitu?" Sebuah suara terdengar ketika Bagas sedang berada di meja makan di rumah eyang. "Bukannya udah dapet lampu hijau dari keluarga mbak Eliana, kenapa masih galau?" Ucap Damar yang menahan kekehannya sambil menuang botol minuman di depannya. Saat baru masuk ke ruangan ini ia tak sengaja mendengar obrolan kakaknya itu di telepon. "Pasti gak siap juga kan kehilangan mbak, Kania? Aduh mas kalau naksir gak usah malu-malu gitu, udah gas aja mbak Kania dari pada ilang." "Ah, gak asyik ngomong sama kamu." serunya sembari menjauhi Damar pergi dari sana. Sebelum itu ia sudah mengambil jaket dan pergi. Setelah itu Damar baru bisa tertawa puas. "Loh kok ngambek sih mas? Aku kan cuma kasih saran aja." Namun baru s
"Mbak, ada yang titipin sesuatu buat mbak." Ucap salah satu staf kerjanya ketika Kania masih belum pergi dari cafe. Pandangan perempuan itu segera beralih pada sesuatu yang ada di tangan perempuan di depannya. "Dari siapa?" "Dari laki-laki yang tadi duduk di meja sama satu keluarga itu, mbak." Pada saat itu Kania langsung mengerti jika Bagas yang sudah memberinya. Untuk apa pria itu memberinya sesuatu seperti ini? Apa dia sengaja mencari-cari perhatian untuknya? "Isinya apa?" "Isinya kalo di cium-cium wangi kue mbak," ucap perempuan itu kemudian mencoba membuka beberapa kotak yang lain. "Kalian makan aja." Balas Kania dengan nada acuh sambil berjalan. "Oh, ada pakaian juga mbak. Blouse sama rok." Namun yang di beri tahu sudah menjauh dari hadapan staf itu. "Gimana mbak?" Teriak perempuan itu berharap Kania mendengar. "Buat k
Sementara itu, di rumah besar keluarga Bagas, suasana sejak pagi terasa kacau. Sehari ini Bagas kewalahan mengurus Naren. Walaupun ia ayah anak itu, Bagas tidak terbiasa menangani balita yang rewel. Dan Naren hari ini tidak berhenti menangis. Bocah itu terus memanggil-manggil nama Kania, membuat Bagas merasa kesal. Ibu Bagas berjalan mondar-mandir, "Perempuan itu kok bisa kabur gitu aja," gerutunya. "Dia nggak pergi karena maling kan?" Di sebelahnya, Tuan Besar duduk di kursi panjang dengan wajah muram. "Aku percaya anak itu baik," gumamnya. "Tapi siapa yang lihat dia pergi? Ratih, rasanya aneh kalau dia pergi tanpa bicara apa-apa sama kamu." Tapi tatapannya tertuju pada Bagas seolah merasa pria itu tahu banyak hal tentang Kania. Bagas merasakan tenggorokannya mengering. Ia menelan ludah, tidak nyaman. "Dia cuma bilang ada keperluan mendadak, Tuan," jawab Rat
“Ini kayanya aku ga sengaja terantuk pintu mas, tadi pas jalan gak liat-liat." Setelah kembali sadar oleh pertanyaan sang kakak ia pun buru-buru memberi alasan yang masuk akal. Namun Angga tak langsung percaya begitu saja, ia bisa melihat ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan di matanya, seperti ada kegelisahan, dan juga kekecewaan. Tentu saja ia percaya sudah terjadi sesuatu pada Kania, sebab tidak biasanya perempuan itu pulang ke rumah begitu saja seperti ini. Tidak mengabarinya jika akan pulang, dan memasang raut sendu. Ia tak pernah melihat Kania seperti ini sebelumnya, gadis itu selalu ceria, bahkan ketika dalam keadaan susah sekalipun ia selalu berusaha tampak tenang. Apalagi selama ini Kania selalu bersikeras ingin bekerja namun tiba-tiba dia pulang tanpa memberi tahu alasan utamnya. Ia benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda dari Kania meski ia ragu untuk menguliknya lebih jauh, mengingat kondisi adiknya yang belum baik, ia tak
Kania meremas tangannya, dengan ekspresi wajah mengetat menahan emosi. Namun belum melakukan pengelakan Bagas sudah lebih dulu menariknya membawanya ke dalam dekapan sambil menciumnya dengan kasar, melumat bibirnya tidak dengan lembut, namun penuh tuntutan. Dia melakukan itu terang-terangan di depan kamera. Menyentuh tubuh perempuan itu, bahkan ketika semuanya terjadi. Adegan panas itu terus berlangsung. Tangannya menyentuh bagian atas perempuan itu secara terang-terangan menunjukkan ke arah kamera, kemudian memindahkan mulutnya kesana, dan menghisapnya. Kania mengerjapkan matanya atas kegilaan pria itu. Ia ingin mengambil handphone itu, namun tangan Bagas yang lain malah bermain di bawah sana. Sehingga sangat sulit untuk ia berjalan. "Fuck!" Umpat Kania dengan rasa frustasi yang pecah. "Calm down, baby," Bisik Bagas di sela bibirnya yang menempel di puncak Kania, menggoda tapi ada nada marah y
"Perempuan lokal, mbak." Jawab Kania. Eliana langsung merasa girang dengan senyum yang dia tunjukkan, seolah ia memasuki kriteria yang Kania sebutkan, walau saat itu ia merasa rambutnya belum cukup di kategorikan panjang, maka setelah itu Eliana pun memutuskan tak pernah memotong rambutnya lagi. "Terus dia suka apa lagi?" "Dia suka makanan yang sehat, mbak. Intinya yang nggak banyak minyak, dan bukan fast food." "Terus, hubungan dia sama Frisca gimana? Maksudnya tetep baik kan?" Kania mengangguk, "Iya, mbak. Mereka baik, walaupun udah gak sama-sama lagi." "Tapi masih ada kedekatan spesial di luar tanggung jawab sebagai orang tua gitu gak? Maaf bukan aku mau lewati batas privasi tapi aku cuma mau tahu aja." Sungguh Eliana terlihat penasaran seolah dia ingin meyakinkan semua hal tentang Bagas dan masalalunya, di depan dirinya yang entah di anggap sebagai apa oleh pria itu. "S
Kania mengangguk. Napasnya ia tahan karena jarak wajah mereka terasa begitu dekat. Ia juga tak menyangka jika pria yang tidak sengaja ia siram tadi adalah Bagas Adipati Wiratmodjo–bosnya saat ini. "Iya, tuan. Sekali lagi maafkan saya." Bagas tidak membalas dia hanya menghela napasnya yang bisa K
"Kan, biaya tagihan rumah sakit mamasmu sudah membengkak beberapa hari ini. Ini bibi bayarkan dulu pakai uang pinjaman dari bank keliling. Soalnya, bibi sudah nggak punya simpanan lagi."Ucapan bibinya tempo hari masih terngiang jelas di kepala Kania. Sudah sebulan terakhir, kakaknya bolak-balik ru
"Kenapa diem hem? Katanya mau kerja, ayo kita ke kamar," imbuh Bagas. Kania langsung memasukan nasi goreng yang baru matang ke dalam piring. Kemudian memutar tubuhnya menatap Bagas. Tangan pria itu masih memeluk pinggang Kania. "Mas. Apa kamu tahu kalau di kamar kamu saat ini ada mbak Frisca?" te
"Ma–maaf, maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja."Kania buru-buru meminta maaf dengan suara gemetar.Perlahan, ia mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pria yang baru saja melepas kacamata hitamnya. Namun, begitu tatapan mereka bertemu, Kania langsung menunduk lagi, tidak berani me







