"Maaf, maafkan saya, Nyonya, Tuan." Kania kikuk, dia lalu berjongkok untuk membersihkan tumpahan susu itu yang mengotori lantai. Sambil menggigit bibirnya ia mengelap noda itu dengan tisu. Pandangan Bagas tertuju pada Kania sebentar. Bisa-bisanya ia sampai tidak memperhatikan Kania di ruangan ini. Akhirnya masalah pribadi yang seharusnya hanya di ketahui oleh mereka berdua bisa di ketahui oleh Kania. "Siapa yang menyuruh kamu ada disini? Keluar!" perintah Bagas pada Kania. Nadanya terdengar seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Padahal sebelum ini Bagas baru saja menggodanya. Tapi mau tidak mau, Kania memang harus segera pergi. Ia sadar akan posisinya, ia tidak boleh berharap di perlakukan baik setiap saat oleh Bagas. "Maaf, tuan. Saya tadi sedang mau siapkan susu." "Biar Frisca yang siapkan susunya." Kania mengangguk patuh. "Baik, kalau begitu saya permisi, tuan." Gadis itu segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Sementara Bagas kembali menata
Read more