LOGIN"Aku cuma jengukin kakak aja nyonya. Gak kemana-mana,""Kamu yakin? Kok rasanya saya ga percaya ya. Kaya kamu tu udah bohongin saya,"Walau begitu Kania tetap tenang."Soalnya kemarin ada yang ngirimi saya foto kamu lagi jalan sama pria,"Nyonya besar langsung menunjukkan foto itu.Dan Kania melihat foto itu dengan rasa sedikit kaget, karena itu benar-benar potret dirinya yang di ambil dari kejauhan."Itu pasti cuma kebetulan, Nyonya," ucap Kania tenang. "Orangnya mungkin mirip sama aku, tapi jelas bukan aku. Lagipula... aku gak punya baju sebagus itu." Ucap Kania.Nyonya besar memicingkan mata, menatapnya lama, seolah berusaha mencari tanda-tanda kebohongan di wajah Kania."Mirip banget," gumamnya pelan. "Bahkan dari belakang pun gaya jalanmu sama."Kania tersenyum tipis. "Aku sering dengar orang bilang wajah ku pasaran, Nyonya.""Aneh aja, fotonya dikirim pas kamu juga lagi di luar. Waktunya pas banget," katanya dengan nada dingin.Kania hanya menunduk sopan. "Aku gak tahu siapa yan
Bagas mendesahkan napasnya."Jadi bagaimana sekarang apa saya perlu jemput nona Kania di sana?" Tanya Bastian."Ya, jemput dia sekarang," balas Bagas sambil menoleh menatap ke arah Kania.Kania seakan mengerti. Dengan maksud Bagas.Setelah itu panggilan berakhir.Bagas meletakkan ponselnya dan berkata pada Kania, "karena mamaku udah mau pulang hari ini, kamu sekarang pulang ke rumah. Aku gak mau orang-orang malah nambah curiga kalau liat kamu ga ada. Walaupun mereka tahunya kamu izin ke jenguk kakakmu. Tapi setelah mereka lihat foto itu bisa jadi sebenarnya mereka curiga, makanya pulang cepet buat mastiin kamu dan saya," ujar Bagas.Kania menghela napas, walau begitu dia tetap tenang. "Mas. Gak usah khawatir. Aku bisa hadapi mereka kok."Bagas terdiam cukup lama kemudian mengangguk."Ini pasti karena Naren, mereka pulang cepet pasti mempertimbangkan Naren." Imbuh Kania."Yaudah aku siap-siap."Kania berbalik ke kamar dan memasukkan barang-barang ke dalam tas.Bagas menggeram, mengepal
Bibirnya yang hangat kembali meraup apa yang ada di depannya mengulum buah dada Kania seolah menggantikan rokok yang semula ia isap.Kania menengadahkan wajahnya. Dan merangkul leher pria di depannya.Semakin lama suhu di antara mereka kembali panas. Intensitas semakin naik. Dan permainan pun di lanjutkan dengan Kania yang memimpin di atas."Aku gak bisa mas,""Kamu harus belajar,"Entah bagaimana nalurinya seolah bekerja.Bagas juga ikut membimbingnya. Hingga mereka benar-benar kembali tenggelam ke dalam permainan-permainan itu.Tangan Bagas menarik pinggul Kania agar sedikit terangkat dan dia mulai membimbingnya sampai miliknya kembali membenam di dalam perempuan itu.Kania menatap kilapan api gairah itu menyala di dalam mata pria itu, ada bayangan tubuhnya juga yang muncul di sana, dan di detik berikutnya logikanya runtuh.Kania bisa menjadi air yang teduhnya mendinginkan, namun bisa juga menjadi api yang membakar habis gairahnya."Bergeraklah," Bisik pria itu.Sampai akhirnya nalu
"Kania?" Bagas menyahut. Namun di dalam hatinya dia jelas tetap terkejut. "Dia kan izin ke tempat kakaknya, Ma. Lagian gak mungkin aku pergi sama dia." Balas Bagas kembali ke tempat tidur.Dia tetap tenang bahkan seolah tak takut dengan kecurigaan ibunya. Sementara Kania terus diam sambil mendengar percakapan itu."Siapa yang kasih tahu Mama?""Frisca," jawab sang ibu. "Dia kirim fotonya barusan."Bagas terdiam beberapa detik. Tatapannya penuh perhitungan."Mama percaya sama omongan dia?""Kamu gak jawab pertanyaan Mama. Kamu di mana sekarang?"Bagas tidak langsung menjawab. Tangan kanannya mengangkat ponsel, memotret dirinya dengan pose berbaring di kasur. Kebetulan sekali, warna seprai kamarnya mirip dengan kamarnya yang di rumah, dan tidak ada orang lain yang tahu apartemennya.Beberapa detik kemudian, foto itu terkirim ke layar pesan ibunya."Tuh, liat." katanya santai. "Aku di kamar. Mau nanya lagi?"Ada jeda panjang di seberang sana sebelum ibunya menjawab. "Kamu beneran kan? Ga
Bagas dan Kania terus melangkah menuju tempat parkir mobil. Begitu sampai pintu mobil disisi penumpang di buka oleh Bagas, Kania pun langsung masuk ke dalam.Begitupun juga pria itu yang langsung mengisi bangku kemudi.Mobil perlahan melaju keluar dari halaman gedung itu menuju ke jalanan utama.Di sepanjang jalan itu hanya hening, tak ada percakapan apapun.Walau begitu Bagas tak berhenti menatap gadis di sebelahnya lewat ekor mata. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun tertahan di ujung lidah.Cahaya lampu jalan memantul di kaca depan, menyorot sebagian wajah Kania yang menatap keluar jendela. Perempuan itu tidak berani membuka percakapan duluan, takut salah bicara lagi.Sementara itu, jemari Bagas mengetuk kemudi. Kebiasaannya setiap kali ia sedang menahan diri dari sesuatu-entah amarah, entah keinginan yang sudah sejak tadi di tahan.Mobil terus melaju di antara riuh malam, sampai akhirnya tiba di sebuah bangunan apartemen yang di ketahui adalah lokasi apartemen milik Ba
Setelah keluar dari pusat belanja mereka tiba di tempat parkir mobil. Bagas langsung membukakan pintu mobil untuk Kania.Dan gadis itu segera masuk mengisi bangku. Sedangkan Bagas langsung menutup pintu dan berputar mengisi bangku kemudi.Perlakuan sederhana ini benar-benar membuat Kania berkesan. Setidaknya pria itu tak melulu memperlakukannya tak menyenangkan. Ada sisi yang membuat ia berkesan.Mobil melaju sepanjang perjalanan, tak ada obrolan. Sesekali Kania melirik dari samping, memperhatikan Bagas yang hanya fokus mengemudi.Mobil berhenti di depan sebuah gedung tinggi.Kebetulan hari sudah sore matahari semakin tenggelam, sehingga cahaya terang dari tiap lantai yang ada di gedung itu berpijar seperti bintang.Keduanya keluar dari mobil dengan Bagas yang memimpin langkah.Mereka memasuki bangunan itu dan menuju lift.Tidak lama sampai di restoran yang berada di lantai paling atas.Restoran itu sangat mewah, dan tampak privat, dijaga beberapa staf yang langsung menunduk hormat sa
"Kenapa diem hem? Katanya mau kerja, ayo kita ke kamar," imbuh Bagas. Kania langsung memasukan nasi goreng yang baru matang ke dalam piring. Kemudian memutar tubuhnya menatap Bagas. Tangan pria itu masih memeluk pinggang Kania. "Mas. Apa kamu tahu kalau di kamar kamu saat ini ada mbak Frisca?" te
Bagas terdiam, pertanyaannya tadi terjawab. Rupanya yang membuat Kania bersedih adalah ketika perempuan itu tahu statusnya dengan Frsica masih belum resmi bercerai."Ga penting aku tahu dari mana," ujar Kania ketus."Jawab pertanyaan saya Kania?" Bagas mencengkram rahang Kania dan menarik wajahnya
Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matan
Kania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini."Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu."Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hi







