تسجيل الدخولSuasana di dalam apartemen mewah milik Selena terasa begitu panas. Bau aroma terapi yang biasanya menenangkan kini tak mampu mengusir hawa permusuhan yang menyelimuti seluruh ruangan. Andra duduk terhenyak di sofa kulit, meremas rambutnya sendiri dengan kedua tangan. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ingin pecah. Di atas meja kaca di hadapannya, layar ponsel mewahnya terus menyala, menampilkan pemberitahuan berita infotainment yang terus diperbarui setiap detiknya. [EXCLUSIVELY: Terekam Kamera! Suami Influencer Renjana Kabur Lewat Pintu Belakang Saat Dikerumuni Wartawan!] Sebuah potongan video pendek memperlihatkan mobil mewahnya melaju kencang, menancap gas dan hampir menyenggol seorang wartawan di dekat gerbang belakang rumahnya. Aksi kaburnya yang nekat itu bukannya meredakan suasana, justru kian mempertegas kesalahannya di mata publik. Tagar nama Andra kini berada di urutan teratas perbincangan nasional, dipenuhi makian dan kecaman dari warganet. "Bagus! Sangat ba
Keheningan di dalam kamar tidur utama vila terpencil itu mendadak terasa begitu pekat dan menekan. Cahaya temaram dari lampu tidur memantulkan bayangan dua tubuh yang masih bergeming. Pengakuan Naren barusan menggantung di udara, membekukan seluruh hangat gairah yang beberapa saat lalu sempat melingkupi mereka. Dada Renjana naik turun, menahan napas yang terasa tertahan di tenggorokan. Pria yang baru saja memeluknya dengan begitu penuh kelembutan, pria yang menjadi satu-satunya tempat ia bersandar di saat dunia menghancurkannya, kini menguraikan identitas aslinya yang kelam dan tak terduga. Naren bukan sekadar pelayan, juru masak, atau sosok "koki" biasa yang selama ini diam menuruti semua perintah keluarga Pratama. Ia adalah putra tunggal dari Theo Santoso dan Renata Avelin—pasangan konglomerat pemilik sah perusahaan Aurelio Diningrat, sebuah jaringan restoran elit bernilai fantastis yang menguasai berbagai kota besar di Indonesia, bahkan dikenal luas sebagai raksasa bisn
"Bukan cuma kamu yang rindu, Na... Aku jauh lebih rindu," bisik Naren lembut. Suara berat pria itu bergetar, sarat akan kerinduan yang selama ini tertahan rapat. Tatapan matanya begitu hangat dan dalam, seolah sanggup menyerap seluruh ketakutan, rasa sakit, serta kepedihan yang membelenggu Renjana. Di dalam ruangan vila yang tenang itu, kehadiran Naren secara ajaib membawa kedamaian yang amat langka—sebuah rasa aman dan nyaman yang belum pernah Renjana dapatkan selama bertahun-tahun terjebak dalam kepalsuan rumah tangganya. Tangan Naren yang kekar terangkat perlahan, membelai lembut helai demi helai rambut Renjana yang harum. Usapan itu begitu teratur, membuat Renjana spontan memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang menenangkan. Namun, saat tatapan Naren turun dan mengunci pada belahan bibir Renjana yang sedikit terbuka, ingatan-ingatan itu mendadak berkelebat hebat di kepalanya. Bayangan saat dirinya memberikan kepuasan, memanjakan, dan membawa wanita itu ke punc
Namun, tak berselang beberapa detik setelah mematikan telepon, kesadaran mendadak menghantam kepala Andra. Ia tersentak. Jika Selena nekat dan menambah masalah baru saat ini, Andra benar-benar bisa "dihabisi" oleh keluarga besarnya sendiri. Tanpa membuang waktu lagi, dengan jemari yang sedikit gemetar, Andra kembali menelepon Selena. Panggilan itu langsung diangkat pada deringan pertama. "Kenapa telepon lagi? Katanya sibuk dengan beban pikiranmu?!" suara Selena menyambutnya, penuh akan sindiran tajam dan nada merendahkan. "Atau baru sadar kalau kamu butuh aku untuk menutupi kelakuan bejatmu, Andra?" Andra menelan ludah, mencoba menurunkan intonasi suaranya selembut mungkin untuk membujuk. "Selena, dengarkan aku dulu... Tolong, jangan lakukan hal bodoh apa pun saat ini. Aku mohon." "Kenapa? Takut?" cibir Selena dingin. "Bukannya kamu tadi mengancam mau mendepakku?" "Aku cuma emosi tadi, Sayang. Tolong mengerti posisiku," bujuk Andra manis, memutar otak setengah mati. Ia
Suasana di kediaman utama keluarga besar Andra berubah menjadi seperti neraka. Di ruang keluarga yang luas dan mewah, Andra berdiri mematung di tengah ruangan, dikelilingi oleh seluruh anggota keluarganya yang siap menghakiminya. Berita kekacauan ini tak kunjung mereda, justru kian menjadi-jadi. Publik tidak hanya dihebohkan oleh foto skandal perselingkuhan Andra dan Melinda, tetapi juga geger oleh berita hilangnya Renjana. Situasi makin tak terkendali saat sebuah rekaman video singkat beredar luas di media sosial. Video itu memperlihatkan detik-detik saat Renjana dihantam oleh Melinda di ruangan VIP kafe. Beruntung, dalam rekaman yang buram itu, wajah dan tubuh tegap Naren tidak terlihat jelas. Yang tampak hanyalah sepasang tangan kekar yang dengan sigap menangkap tubuh Renjana sebelum ambruk ke lantai. Spekulasi publik pun liar tak terkendali. Siapa pria misterius itu? Ke mana Renjana dibawa pergi? Media benar-benar dibuat heboh, dan nama keluarga Andra berada di puncak keh
Sejak awal, Naren sudah mencium ada yang tidak beres. Melalui akses CCTV rahasia di penthouse milik Andra yang terus ia pantau, Naren menyaksikan pergerakan mencurigakan Renjana hingga wanita itu pergi menemui Melinda. Firasat buruk membawanya menyusul hingga ke kafe ini. Namun, ia tak pernah menyangka akan menyaksikan aksi nekat yang hampir merenggut nyawa Renjana tepat di depan matanya sendiri. Pemandangan di depannya membuat darah Naren mendidih. Renjana terkulai tak berdaya dalam dekapannya, dengan darah segar yang terus mengalir membasahi dahi dan gaun cantiknya. Di hadapannya, Melinda berdiri terengah-engah dengan napas memburu. Tangannya gemetar hebat, masih memegang sisa pecahan vas bunga yang hancur berkeping-keping di atas lantai marmer. Wajah Melinda seketika pucat pasi saat mendongak dan menyadari siapa pria kini berdiri di depannya. "Kamu harus bertanggung jawab, Melinda!" desis Naren. Suaranya begitu rendah dan dalam, Mata Melinda membelalak panik. Kesa
Renjana mengepalkan jemarinya kuat-kuat, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang tercecer sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar hotel yang megah itu. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, atmosfer ruangan mendadak terasa begitu pekat dan menjebak. Pria itu hanya mengenakan kaus
Sepanjang hari, Renjana tidak bisa tenang. Perkataan suaminya tadi pagi benar-benar membuatnya gelisah. Bahkan sejak saat itu, Renjana sama sekali tidak keluar kamar. Perutnya mendadak mual, sementara rasa lapar dan haus menguar entah ke mana. Hingga malam datang, tubuh perempuan itu mendadak men
Begitu sarapan pagi selesai, keluarga besar perlahan meninggalkan meja makan dan berkumpul di ruang tamu untuk menonton televisi bersama. Kecuali Renjana. Ia memilih tetap berada di ruang makan, membereskan meja dan menata piring-piring kotor ke dekat wastafel. Sengaja ia menjauh dari keramaia
Matahari mulai naik, sinarnya menerobos masuk dan menyoroti wajah Renjana di balik tirai yang sedikit terbuka. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Malam tadi benar-benar menguras emosi dan air matanya, hingga Renjana tidak bisa benar-benar tertidur. Semalaman ia hanya melamun, menangis, dan ter







