"Hei, Bang. Kemari!" Langkah Fatan yang tadinya santai mendadak kaku. Dia menarik napas dalam, membetulkan topi lusuhnya, lalu memutar gerobak buahnya menuju suara itu. Di ambang pintu klinik, berdiri seorang gadis dengan sorot mata cerah yang tampak sangat antusias. Itu Dina. "Iya, Neng? Mau beli apa, Neng? Jeruknya manis, mangganya baru petik," ujar Fatan dengan logat yang dibuat-buat, berusaha menyembunyikan aura militer yang biasanya selalu menyelimuti dirinya. Dina mendekat, memperhatikan Fatan dari atas ke bawah. Sebagai gadis desa yang cukup supel, Dina langsung menangkap sesuatu yang tidak biasa dari pria di depannya ini. Bahu Fatan yang bidang, postur tubuhnya yang tegak, serta cara bicaranya yang tertata rapi, jauh berbeda dengan pedagang kaki lima biasanya. "Abang ini baru ya? Kok saya baru lihat?" tanya Dina dengan nada sedikit menggoda, kepalanya sedikit miring dengan senyum yang centil. "Abang tinggal di mana? Kayaknya tegap amat, udah kayak tentara aja." F
Baca selengkapnya