Alya membasahi kasa dengan cairan antiseptik, jemarinya bergerak dengan ketelatenan luar biasa saat menyentuh kulit di sekitar luka jahitan pada punggung Putra. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, seolah takut jika sedikit saja gerakan yang salah akan menyakiti pria itu lebih dalam. Putra hanya diam, matanya tak pernah lepas dari wajah Alya. Ada rasa damai di hatinya, di dalam ruang isolasi ini yang sunyi ini. Setelah selesai, Alya mengambil mangkuk bubur yang tersaji di meja samping. Dengan sabar, ia menyuapi Putra. Suasana menjadi hening, hanya denting sendok yang beradu pelan dengan mangkuk. "Makanlah sedikit lagi, Putra. Kamu butuh nutrisi agar lukamu cepat kering," ujar Alya lembut. Putra menerima suapan terakhir, lalu menatap Alya dengan sorot mata yang mendadak berubah serius. Ia meraih tangan Alya, menahannya agar tidak menarik sendok itu menjauh. "Alya, maafkan aku," Suaranya tampak ragu namun, penuh penekanan. "Status kita ... aku masih harus merahasiakannya d
Read more