Langkah kaki Bu Dianti menghentak keras di lantai keramik rumahnya. Kipas di tangannya dikibas-kibaskan dengan kecepatan tinggi, mencoba mengusir rasa panas yang membakar dadanya, panas yang bukan berasal dari udara Desa Kemuning, melainkan dari rasa sisa amarah dan malu di depan umum tadi."Sialan! Satpam sialan!" maki Bu Dianti, melempar tas mewahnya ke sofa hingga menimbulkan suara yang cukup keras. "Berani-beraninya dia bersikap sok jagoan di depan mataku!"Hendra masuk mengekor di belakang ibunya. Pria berseragam itu tampak lesu, kepalanya tertunduk dalam. Ia tahu ibunya sedang marah besar. Bila, yang sedang asyik bermain ponsel di sudut ruangan, langsung meletakkan benda pipih itu. Gadis SMA itu tahu, jika ibunya sudah mengamuk seperti ini, tontonan di dunia nyata jauh lebih menarik daripada media sosial.Bu Dianti berbalik, menunjuk Hendra dengan kipasnya. "Dan kamu, Hendra! Apa yang ada di dalam otakmu itu, hah?! Kenapa kamu masih saja mengemis-ngemis pada dokter kampungan
Read More