"Kamu ... baik-baik aja kan? Apa ada bagian tubuhmu yang terluka karena insiden tadi?" tanya Putra dengan suara berat yang menyiratkan kekhawatiran mendalam, napas hangatnya berembus tepat di hadapan wajah Alya. Alya terdiam sejenak, menatap manik mata suaminya yang memancarkan kecemasan tulus. Ia bisa merasakan debar jantung pria itu di balik dada bidangnya. "Ya ... aku baik-baik aja, Putra," jawab Alya pelan sambil mengangguk kecil, matanya masih menatap lekat pada sosok perwira yang kini mendekapnya erat. Putra mengembuskan napas lega. "Syukurlah kalau begitu. Istirahatlah, tenangkan pikiranmu," bisik Putra lembut tepat di telinga Alya. "Besok pagi-pagi sekali, kita ambil semua barang-barangmu di mes." Alya mengangguk lagi, merasakan sekujur tubuhnya melemah dalam rengkuhan itu. Dengan sisa kesadaran dan akal sehat yang dimilikinya, ia buru-buru melepaskan diri dari dekapan Putra, melangkah mundur perlahan, lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Putra ma
Read more