Pintu kabin terbuka. Rara melangkah masuk membawa mangkuk tembaga berisi ramuan peredam nyeri dan kantung kulit berisi deretan jarum perak. Menanggalkan ketegasan komandan dan aura membunuh yang ia pakai di geladak, Rara kini kembali memegang peran mutlaknya malam ini: seorang tabib dewa dan seorang istri.Tanpa membuang waktu, Rara meletakkan mangkuk itu di meja sebelah ranjang. Ia duduk di sebelah Mahesa, menyelipkan jari-jemarinya yang sedingin es ke rahang pria itu, memaksanya mendongak."Tahan napasmu," bisik Rara tegas, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang yang kini menyala kemerahan itu.Mahesa menarik napas dengan susah payah, memaksakan sebuah seringai angkuh meski bibirnya pucat. "Sakit ini... bukan apa-apa," geramnya parau. "Jangan menatapku seolah aku akan mati besok, Istriku.""Simpan tenagamu untuk bernapas, Mahesa," balas Rara lugas, tak mengacuhkan arogansinya. "Api di jantungmu tidak peduli pada kesombonganmu."Tangan Rara berkelebat secepat bayangan. Tiga
続きを読む