Kegelapan di balik pintu besi ganda yang telah hancur itu seolah hidup, menghembuskan napas busuk yang berbau karat, tanah basah, dan darah yang mengering. Suara gemuruh pertempuran dari pelataran depan, tempat Mahesa Kurda tengah membantai sisa-sisa pasukan faksi putih, terdengar semakin samar, teredam oleh tebalnya dinding batu andesit yang mengisolasi area terlarang ini dari dunia luar.Rara Kinasih melangkah melewati ambang pintu yang telah hancur tersebut. Hawa dingin yang tidak wajar langsung merayapi kulitnya, namun sang Tabib Dewa bahkan tidak berkedip. Ia menoleh perlahan ke arah Panglima Bayanaka yang berdiri siaga di belakangnya dengan pedang panjang yang masih meneteskan darah segar."Tahan posisimu di mulut lorong ini, Panglima," titah Rara dengan suara yang tidak menerima bantahan. "Jangan biarkan satu pun tikus putih turun ke bawah, dan jangan ada satu pun prajurit faksi hitam yang mengikutiku masuk. Ruang bawah tanah ini adalah arena pribadiku."Bayanaka meninju dada
続きを読む