Di dalam gua es yang gelap, deru badai silet di luar terdengar seperti lolongan kematian yang tak berkesudahan. Namun, di dalam pelukan Mahesa Kurda, Rara Kinasih hanya merasakan kehangatan yang menyelamatkan nyawanya.Lahar hitam Geni Asura yang biasanya membawa kehancuran dan rasa sakit tak tertahankan bagi sang Iblis, kini mengalir selembut sutra. Mahesa mengendalikan kutukannya dengan presisi yang mengerikan, menolak membiarkan setetes pun hawa dingin menyentuh kulit istrinya. Perlahan, rona merah kembali menghiasi pipi pucat Rara. Napasnya yang semula putus-putus kini beraturan, menandakan simpul nadi di sekujur tubuhnya telah terbebas dari ancaman pembekuan mutlak.Merasakan denyut jantung Rara kembali kuat, Mahesa perlahan melonggarkan dekapannya. Pria bertubuh tegap itu meraih jubah hitamnya yang tergeletak di atas es, lalu memakaikannya ke tubuh Rara sebelum mengenakan pakaian tempurnya sendiri."Kau berutang nyawa padaku, Ratuku," bisik Mahesa, menyeringai dengan tatapan
อ่านเพิ่มเติม