Hawa panas di dalam gua bawah tanah Ndalem Candra Dimuka terasa seperti simulasi neraka sungguhan. Gelembung lahar yang meletup di dasar kawah memancarkan cahaya merah pekat, menerangi Tungku Inti Lahar yang berdiri kokoh di tengah ruangan.Bagi manusia biasa, bernapas di tempat ini sama saja dengan menelan bara api. Rara Kinasih mulai merasakan keringat mengucur deras dari pelipisnya. Tanpa ragu, sang Tabib Dewa meloloskan tali jubah luarnya, membiarkan kain sutra tebal itu jatuh menumpuk di lantai batu. Kini, Rara hanya berbalut kemben hitam tipis dan celana pangsi yang mengekspos bahu, punggung, dan lekuk pinggangnya secara menggoda.Di belakangnya, Mahesa Kurda yang menyandarkan punggung ke dinding gua mendengus pelan. Sepasang mata elangnya menyipit, menatap lekat-lekat kulit istrinya yang kini mengilap oleh keringat."Kau yakin ingin memamerkan punggungmu seperti itu saat sedang meracik obat, Tabib Dewa?" goda Mahesa, suaranya serak dan berat, bergema rendah mengalahkan suara
続きを読む