Malam kian larut, menelan kediaman Mahesa Kurda dalam pekatnya bayangan. Angin kemarau yang menggigit tulang menyapu ilalang di Keputren Ujung Utara. Di balik jendela lapuk itu, sepasang mata menatap tajam, sorotnya jauh lebih dingin dari embusan angin malam.Krek.Bunyi gemeretak halus terdengar saat Rara memutar lehernya. Jemari lentiknya bergerak lincah, mengencangkan simpul selendang sutra merah di pinggang.'Di kehidupan lalu, ruang bawah tanah Giri Wesi memaksaku hanya bisa menghafal teknik-teknik membunuh ini di dalam otak,' batin Rara. Matanya berkilat buas. 'Malam ini, selendang ini yang akan mempraktikkan pencabutan nyawa pertama.'Di siang hari, ia rela menekan harga diri, membiarkan tubuhnya direndahkan dan kasurnya disiram air pel busuk demi sebuah sandiwara. Tapi begitu mentari tumbang, tatanan dunia berbalik mutlak. Waktu bermain telah usai.Satu tolakan ringan dari ujung kaki, dan tubuh Rara melesat menembus bingkai jendela.Tanpa suara. Tanpa ranting patah.Ilm
최신 업데이트 : 2026-06-06 더 보기