Pendopo Ageng Ndalem Candra Dimuka pagi ini diselimuti aura penindasan yang mencekik. Saat Rara melangkah gontai dipapah Nyi Darmi, tatapan tajam para penjaga berzirah hitam di sepanjang selasar menukik seolah menggiringnya menuju tiang pancung.Rara menunduk dalam, mengunci rapat posturnya layaknya pesakitan lemah yang gemetar dijemput maut. Namun, di balik tirai bulu matanya yang lentik, panca indranya memindai seisi ruangan dengan presisi mematikan.Di ujung pendopo, bertahta di atas singgasana jati berukir naga, duduklah Mahesa Kurda. Sang Iblis mengenakan jubah hitam kebesaran. Rahangnya mengeras, dan sepasang mata elangnya menembakkan kilat membunuh ke arah pintu. Di sisi kanannya, Panglima Bayanaka berdiri mematung siaga, tangan kokohnya bertumpu di gagang pedang.Di seberang mereka, duduklah sekawanan tamu tak diundang dari Padepokan Giri Wesi. Utusan itu dipimpin oleh seorang Tetua berwajah pongah, didampingi Raden Arya Seta yang berbalut jubah sutra biru bersulam benang em
Last Updated : 2026-06-17 Read more