Sebelum terompet sangkakala bergaung membelah sabana gersang, suasana di dalam tenda pesanggrahan faksi hitam terasa teramat mencekik.Mahesa Kurda berdiri menjulang di hadapan ranjang, memancarkan hawa penakluk yang pekat. Pria itu telah mengenakan jubah tempur hitamnya, siap menyongsong Sayembara Perburuan Mongso Ketiga. Namun, sebelum melangkah keluar, sang Iblis menunduk. Jemarinya yang berbalut sarung tangan kulit mencengkeram lembut namun penuh ancaman pada rahang Rara. "Dengar baik-baik titahku ini, Istriku," ucap Mahesa dengan suara bariton yang teramat rendah, matanya mengunci sepasang pupil Rara yang tampak bergetar. "Di luar sana adalah neraka. Sekali kau menginjakkan kaki keluar dari pesanggrahan ini, badai kapuk itu akan mengisap habis darah dan dagingmu hingga hanya tersisa tulang belulang kering."Rara menyusutkan tubuhnya, mencengkeram erat selimut sutra seolah nyaris pingsan dihantam teror kata-kata suaminya.Mahesa mengusap ibu jarinya di pipi pucat Rara, menye
Read more