Terik matahari Mongso Ketiga memanggang pelataran batu candi di luar Pendopo Ageng. Namun, hawa panas itu seolah tak mampu menembus udara di dalam bangunan utama faksi hitam tersebut, yang kini terasa sedingin es abadi.Rombongan utusan dari Padepokan Giri Wesi melangkah masuk dengan dada membusung. Di barisan paling depan, Dyah Ayu Ajeng berjalan dengan keanggunan yang telah dilatih bertahun-tahun. Berbalut kebaya sutra putih bersulam benang emas, gadis yang dijuluki "Permata Giri Wesi" itu tersenyum lembut. Di belakangnya, dua Tetua tingkat tinggi padepokan mengawal dengan wajah angkuh, memancarkan perisai prana tipis untuk menangkal hawa membunuh dari Pasukan Bayangan yang berjaga di setiap sudut pendopo. Di dalam benaknya, Ajeng tengah bersorak kegirangan. Ia datang dengan ekspektasi penuh: melihat Rara Kinasih, saudari tirinya yang ia benci setengah mati, dalam keadaan hancur, cacat, dan meringkuk layaknya anjing pesakitan di bawah kaki sang Iblis faksi hitam. Namun, begit
続きを読む