Kawah belerang itu seolah menahan napas. Dua kekuatan ekstrem saling berbenturan di udara, menciptakan percikan kilat kasatmata antara hawa panas Geni Asura yang pekat dan prana penyejuk sedingin es. "Tunduklah secara sukarela, Tabib," titah Mahesa, mengayunkan pedang besarnya hingga membelah angin dengan suara mendesing tajam. "Kau takkan bisa lari dari hadapanku. Obati kutukanku, dan aku akan memberimu kekayaan, perlindungan, serta posisi yang tak tertandingi di faksi hitam. Atau... kau bisa menolak, dan aku akan mematahkan kedua kakimu untuk menyeretmu ke peraduanku." Rara mendengus sinis. Di balik cadar merahnya, ia menyipitkan mata. Menggunakan teknik Sandi Suara yang mengalir melalui simpul nadi di lehernya, suara Rara terdengar menggema, rendah, dan mustahil dikenali sebagai suara istrinya sendiri. "Kau terlalu memuja dirimu sendiri, Penguasa Kegelapan," balas Rara tajam. "Kau pikir dunia ini berputar hanya untuk melayani ego liarmu? Simpan kekayaan dan perlindunganmu
อ่านเพิ่มเติม