"Sayang, tolong bicara sesuatu. Jangan diam seperti ini," bisik Rangga parau, menatap lekat sepasang mata istrinya. "Mas minta maaf. Percayalah, Tamara hanyalah masa lalu yang sudah selesai sejak lama. Tidak ada lagi ruang untuknya di hidupku." Rangga gusar dengan diamnya Maria. Padahal saat menghadapi Tamara tadi mereka begitu kompak.Maria menghela napas panjang. "Aku hanya lelah, Mas. Menghadapi wanita yang sama dan persoalan yang sama berulang kali."Mendengar keluhan jujur itu, Rangga semakin merapatkan tubuhnya, memangkas jarak hingga tidak ada lagi celah di antara mereka. Ia memandang wajah Maria, menatap lekat-lekat bibir istrinya yang ranum, kemudian mengecupnya dengan kelembutan yang dalam dan penuh perasaan."Mas minta maaf," ucap Rangga di sela-sela kecupannya. Suaranya berat sarat akan emosi dan rasa khawatir. "Tapi tolong, jangan biarkan wanita itu merusak kedamaian kita sekarang ini. Mulai detik ini, kita tidak usah memedulikannya lagi. Dia tidak punya kuasa apa pun ata
Leer más