Pak Pradipta memecah keheningan sembari merapikan beberapa berkas. "Baik, Mbak Tamara. Sore ini kita berkumpul untuk menindaklanjuti surat somasi yang saya kirimkan tempo hari. Sesuai kesepakatan, kita akan menyelesaikannya secara kekeluargaan di sini, asalkan Anda memenuhi semua tuntutan klien saya.""I-iya, Pak," jawab Tamara dengan suara bergetar hebat.Dengan tangan yang gemetar, Tamara meraih ponsel dari dalam tasnya. Di bawah tatapan mengintimidasi dari Rangga dan Pak Pradipta, jemarinya bergerak menghapus satu per satu fail foto dan video intim masa lalu yang tersimpan di sana. "Sudah saya hapus semua, Pak. Ini di bagian folder recently deleted juga sudah saya bersihkan total. Tidak ada yang tersisa."Rangga yang sejak tadi diam, menatapnya dengan sorot mata sedingin es. "Bisa jadi kamu tidak hanya menyimpan fail-fail itu di ponsel. Mungkin ada juga di laptop, flashdisk, atau penyimpanan lainnya.""Sumpah, nggak ada, Mas. Hanya di ponsel ini saja," bantah Tamara dengan suara se
더 보기