"Eh, A'im, sebentar, Sayang. Jangan ke sana dulu," potong Maria dengan sigap menahan pinggang putranya. "Papa masih di dalam, A'im nggak boleh masuk ke sana. Tunggu di sini ya, sebentar lagi Papa keluar."Ibrahim melonjak-lonjak tidak sabar, tatapan matanya terus mengikuti pergerakan Rangga yang kini sedang mengantre di pintu sensor terakhir. Begitu Rangga melangkah melewati pintu kaca otomatis dan resmi menginjakkan kaki di area penjemputan, Maria langsung melepaskan dekapannya.Bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya, Ibrahim langsung melesat berlari kencang membelah kerumunan orang, mengabaikan Siti yang sempat memekik saat mengikuti Ibrahim dari belakang. "Papaaa!"Melihat anak yang amat dirindukannya, Rangga spontan melepaskan pegangan kopernya. Ia langsung berjongkok, membuka lebar kedua lengannya untuk menyambut tubuh Ibrahim yang langsung menubruk dada bidangnya. Rangga mengangkat tubuh putranya, memeluknya teramat erat seolah ingin menumpahkan seluruh rindu yang menyiksa
Read more