"Mas sudah merencanakan perceraian sebelum bertemu denganmu," bantah Rangga. Maria terus meluapkan segala kekesalan, rasa lelah, dan rasa tidak amannya malam itu. Sementara Rangga hanya bisa diam membisu, mendengarkan dengan sabar setiap kata amarah yang keluar dari bibir sang istri. Pria itu menahan diri untuk tidak memotong atau mendebat. Percuma, Maria hanya ingin didengar, bukan didebat.Rangga sekarang paham psikologi wanita, kalau mereka butuh mengomel untuk mengeluarkan seluruh racun di dalam hatinya hingga tuntas. Terlebih lagi ia sadar bahwa saat ini Maria sedang mengandung. Di mana gejolak hormon membuat mood-nya naik turun dengan drastis dan tidak menentu. Rangga tahu, sebagai konsekuensi masa lalunya ia harus siap jika sewaktu-waktu masalah ini kembali diungkit, lagi dan lagi sampai kapan pun.Seperti halnya Tamara dulu, tiap kali marah, akan mengungkit kebersamaan Rangga dan Maria.Setelah Maria mulai tenang, Rangga menarik napas panjang dan dalam. Ia merapatkan tubuhnya
더 보기