Teilen

MJM 153

last update Veröffentlichungsdatum: 18.07.2026 09:44:49

Keheningan kembali menyergap. Tamara menanti kepanikan atau gurat syok di mata Aisyah. Namun nihil. Tetap saja wanita di hadapannya itu bergeming dalam ketenangannya. Begitu pula dengan Rangga yang wajahnya terlihat dingin. Tamara semakin heran tapi emosi.

"Kenapa Mbak nggak terkejut sama sekali?" Emosi Tamara mulai tersulut. "Apa Mas Rangga nggak pernah menceritakan semuanya kepadamu, Mbak? Apa dia menyembunyikan fakta kalau dulu dia itu sampai pernah punya dua istri sekaligus dalam satu wakt
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (8)
goodnovel comment avatar
Adfazha
Makjleb deh Tamara awalnya merasa pengah eh trnyta mlh kalah... nyesek kan tau Aisyah mlh buka rahasia yg tak pernah km tahu Maria hamil anak Rangga apalgi klo tau dialah Maria
goodnovel comment avatar
Sri Mayani Roeslan
mampoooossss
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
telepon dulu GK sih.. takut Si TamTam pingsan.. hehehe..
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Mencari Jejak Maria   MJM 157

    "Sayang, tolong bicara sesuatu. Jangan diam seperti ini," bisik Rangga parau, menatap lekat sepasang mata istrinya. "Mas minta maaf. Percayalah, Tamara hanyalah masa lalu yang sudah selesai sejak lama. Tidak ada lagi ruang untuknya di hidupku." Rangga gusar dengan diamnya Maria. Padahal saat menghadapi Tamara tadi mereka begitu kompak.Maria menghela napas panjang. "Aku hanya lelah, Mas. Menghadapi wanita yang sama dan persoalan yang sama berulang kali."Mendengar keluhan jujur itu, Rangga semakin merapatkan tubuhnya, memangkas jarak hingga tidak ada lagi celah di antara mereka. Ia memandang wajah Maria, menatap lekat-lekat bibir istrinya yang ranum, kemudian mengecupnya dengan kelembutan yang dalam dan penuh perasaan."Mas minta maaf," ucap Rangga di sela-sela kecupannya. Suaranya berat sarat akan emosi dan rasa khawatir. "Tapi tolong, jangan biarkan wanita itu merusak kedamaian kita sekarang ini. Mulai detik ini, kita tidak usah memedulikannya lagi. Dia tidak punya kuasa apa pun ata

  • Mencari Jejak Maria   MJM 156

    Tamara yang duduk di sebelah mamanya hanya bisa menggeleng lemah. Suaranya terdengar serak dan pasrah. "Enggak, Ma. Anak laki-laki itu wajahnya persis sekali seperti Rangga. Garis mukanya, matanya, senyumnya, semuanya jiplakan Rangga." Meski kecewa, Tamara tidak bisa membohongi hal itu. Ibrahim memang duplikatnya Rangga.Bu Arsi mengepalkan kedua tangannya di atas lutut, wajahnya memerah karena geram. Ingat wanita lemah bernama Maria yang dulu didatangi dan dimintanya untuk meninggalkan Rangga. "Di mana mereka tinggal?" desis Bu Arsi.Tamara tidak menjawab. Ia mengabaikan pertanyaan mamanya, lalu merebahkan kepalanya di punggung sofa dengan tubuh yang teramat lemas. Energi di dalam tubuhnya seolah telah terkuras habis. Sejak pulang kerja sore tadi, perutnya belum masuk makanan sama sekali. Rasa lapar itu tertutup rapat oleh rasa perih yang teramat pekat di hulu hatinya.Pandangan Tamara menatap kosong ke langit-langit rumah. Ingatannya mendadak melompat jauh ke beberapa tahun lalu, ke

  • Mencari Jejak Maria   MJM 155

    MARIA- 59 Sudah Selesai Mata Tamara memanas, air mata yang sejak tadi ditahannya kini mendesak keluar mengaburkan pandangannya. Kenyataan sore ini terasa amat pahit, menghantam ego dan harga dirinya hingga hancur berkeping-keping. Di hadapannya, ia melihat Maria berdiri dengan begitu tenang.Bisa-bisanya mereka kembali bersatu sebagai suami istri setelah semua badai yang terjadi. Dan yang paling mengoyak hati Tamara adalah fakta bahwa Maria telah melahirkan anak dari Rangga. Sebuah anugerah yang dulu gagal ia dapatkan."Rupanya kamu juga mengejar lagi mantan suamimu, Maria," desis Tamara dengan tatapan yang memancarkan rasa tak terima yang teramat sangat. Suaranya bergetar, sarat akan kecemburuan dan kebencian."Dia tidak mengejar, tapi aku yang mengejarnya dan memohon supaya dia mau kembali bersamaku," potong Rangga tegas.Seketika jawaban itu membuat dada Tamara semakin panas membara seperti disiram bensin. Pria yang dulu begitu ia puja, kini terang-terangan membela rivalnya tanpa

  • Mencari Jejak Maria   MJM 154

    Sebab ia juga melihat betapa dekatnya Ibrahim dengan Aisyah. Namun ia tidak berani bertanya pada Rangga yang sudah memasang wajah beku. Terlihat sekali pria itu tidak ingin berlama-lama di sana. Tapi memang semuanya harus diperjelas supaya tidak ada fitnah. Bukankah Tamara ini pandai sekali playing victim.Maria menghela napas panjang, tatapannya kembali memandang Tamara. "Istri pertama Mas Rangga mengandung saat dia pergi menjauh usai bercerai. Dan di tempat perasingannya dia melahirkan. Mas Rangga sendiri baru mengetahui keberadaan anak kandungnya ini beberapa bulan yang lalu, tepat ketika proses perceraian kalian berdua sedang berjalan di pengadilan."Tamara kaget bukan main. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah terkuras habis hingga membuat napasnya sesak. Ternyata dirinya yang selama ini merasa paling tahu segalanya tentang Rangga, justru menjadi orang yang paling buta. Informasi yang ia cari ke sana kemari dengan susah payah, kini tersaji di depannya dalam bentuk kenyata

  • Mencari Jejak Maria   MJM 153

    Keheningan kembali menyergap. Tamara menanti kepanikan atau gurat syok di mata Aisyah. Namun nihil. Tetap saja wanita di hadapannya itu bergeming dalam ketenangannya. Begitu pula dengan Rangga yang wajahnya terlihat dingin. Tamara semakin heran tapi emosi. "Kenapa Mbak nggak terkejut sama sekali?" Emosi Tamara mulai tersulut. "Apa Mas Rangga nggak pernah menceritakan semuanya kepadamu, Mbak? Apa dia menyembunyikan fakta kalau dulu dia itu sampai pernah punya dua istri sekaligus dalam satu waktu?" Melihat ketenangan sepasang suami istri di hadapannya, dada Tamara naik turun menahan amarah yang membakar batinnya. "Mbak, saya justru jauh lebih banyak tahu tentang hidup Mas Rangga daripada yang Mbak ketahui. Baik buruknya dia saya tahu." Jawaban itu laksana petir di siang bolong bagi Tamara. Ia kaget hingga mengernyitkan keningnya begitu dalam, menatap Aisyah dengan tatapan tidak percaya."Maksud Mbak apa?" tanya Tamara, suaranya bergetar menahan perih. "Saya tahu banyak tentang siapa

  • Mencari Jejak Maria   MJM 152

    MARIA- 58 Aku MariaLangkah kaki Tamara terasa begitu berat, tapi tetap memaksa melangkah untuk mengikis jarak di antara mereka. Sepasang matanya terkunci rapat pada sosok yang pernah dan sampai sekarang masih merajai isi kepalanya. Rangga Faturrahman.Gemuruh di dalam dadanya laksana badai yang siap meruntuhkan apa saja. Dengan dagu terangkat dan senyum penuh percaya diri yang dipaksakan, ia berdiri tepat di hadapan mereka. "Assalamu'alaikum," ucapnya mengalihkan perhatian sepasang suami istri itu."Wa'alaikumussalam," jawab Rangga dan Maria hampir bersamaan. Mereka urung melangkah ke mobil. Seketika suasana di sekitar mereka mendadak berubah menjadi begitu kaku dan menegangkan. Ketiganya saling pandang. Angin sore yang berembus pelan di halaman hotel seolah berhenti, menyisakan ketegangan yang merayap. Rangga khawatir pada Maria dan Ibrahim.Tamara dengan gerakan anggun, sengaja mengulurkan tangan pada Rangga. Matanya melirik ke arah Maria, bersiap menyalakan api provokasi. "Lama

  • Mencari Jejak Maria   MJM 40

    Hening. Rangga mendengar isakan lirih di seberang. Walaupun tak pernah mengabari, ibu dan bapaknya tak pernah sakit hati atau membenci Maria. Mereka selalu bilang kalau terus mendoakan Maria."Dia nggak akan pulang karena menganggap Tamara pasti akan tetap menjadi menantu di rumah ini. Sekuat-kuat

  • Mencari Jejak Maria   MJM 37

    "Mbak Aisyah, Pak Rudi mungkin bisa meyakinkan keluarganya," hibur Bu Halimah.Aisyah yang saat itu tak bercadar, tersenyum samar. Sejenak ruangan itu mendadak hening. Bu Halimah memang mengenal Rudi sudah lama. Sebagai donatur yang dermawan dan pria yang baik, tapi ia memang tidak tahu bagaimana d

  • Mencari Jejak Maria   MJM 33

    Aisyah melangkah pelan, berdiri di samping Bu Halimah dengan sikap yang sangat tenang dan profesional. Meski di dalam dada bergemuruh hebat."Mbak Aisyah, kenalan sebentar. Beliau ini Pak Rangga, salah satu donatur dari grupnya Pak Ahmad. Bulan kemarin beliau sudah ke mari, tapi Mbak Aisyah lagi di

  • Mencari Jejak Maria   MJM 7

    MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status