Selama proses pembukaan yang melelahkan berlangsung, Rangga tidak bergeser satu senti pun dari sisi ranjang. Ia dengan cekatan mengelap peluh di wajah Maria menggunakan tisu, membantunya minum seteguk air, serta tanpa lelah mengusap punggung dan perut istrinya setiap kali gelombang kontraksi datang menerpa. Mak Menik sendiri sudah diminta untuk menunggu di luar agar ruangan tidak terlalu penuh.Dulu Maria melalui ini sendirian tanpa keluarga di sampingnya. Ingat itu hati Rangga terasa perih.Di tengah jeda kontraksi, Rangga menyempatkan diri menghubungi ibunya."Bu, Maria sekarang sudah di ruang bersalin, sudah pembukaan enam. Rangga mohon doanya supaya Maria melahirkan dengan lancar."Dari seberang telepon, terdengar suara Bu Hasna bergetar karena kaget, haru, sekaligus bahagia. "Ya Allah, Rangga. Iya, Nak. Ibu doakan. Kirim alamat rumah sakitnya, Ibu sama Bapak akan ke sana sekarang juga.""Iya, Bu," jawab Rangga lalu memutus panggilan karena Maria kembali mengerang kesakitan.Menje
Read more