Rangga di seberang sana tertawa melihat respons istrinya. Ia lalu menenangkan sang anak. "Iya, Kak, dengerin Bunda, ya. Tidak lama lagi Papa pasti pulang. Anak pintar harus sabar, oke?"Meskipun dengan wajah yang agak kecewa, Ibrahim akhirnya mengangguk patuh. "Iya, Pa. Jangan lama-lama, ya.""Oke, jagoan papa." Rangga tersenyum pada putra sulungnya.Setelah itu Maria mengalihkan layar pada si kecil. Rangga sibuk menyapa dan Yusuf asyik memperhatikan sambil tersenyum. Kemudian Maria bicara pada sang anak. "A'im sama adik main sama Mbak Siti, ya. Bunda mau mandi dulu." Maria bangkit dari duduknya sambil mengalihkan panggilan video menjadi panggilan suara biasa, lalu melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.Begitu pintu kamar tertutup, suara Rangga kembali terdengar di ujung telepon. "Sayang, Mas serius soal yang tadi. Hari Jumat nanti, kamu bawa anak-anak menyusul Mas ke Jakarta. Mas pesenin tiketnya. Nanti Minggu sore kita barengan pulang ke Malang. Bagaimana?"Ma
Read more