Share

Bab 76

Author: Ajeng padmi
last update publish date: 2026-08-05 12:07:01

“Eh, Ca. si om bisa bantu aku juga nggak?”

“Bantu apaan?”

“Ngerjain skripsilah apalagi, masak iya bantu belikan aku mobil. Kakau dia mau sih aku seneng banget. Tapi maaf ya aku nggak mau jadi istri kedua apalagi pelakor.”

Sumpah ya. Dia kok bisa berteman dengan mahluk modelan kayak gini, sudah minta bantuan mulutnya julid banget. Kalau saja mereka sekarang berhadapan Ica pasti ambil kaos kakinya yang bekas pakai untuk disumpalkan ke mulut cerewet Tata.

“Idih. Kamu bilang pacarmu yang akunta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 76

    “Eh, Ca. si om bisa bantu aku juga nggak?” “Bantu apaan?” “Ngerjain skripsilah apalagi, masak iya bantu belikan aku mobil. Kakau dia mau sih aku seneng banget. Tapi maaf ya aku nggak mau jadi istri kedua apalagi pelakor.” Sumpah ya. Dia kok bisa berteman dengan mahluk modelan kayak gini, sudah minta bantuan mulutnya julid banget. Kalau saja mereka sekarang berhadapan Ica pasti ambil kaos kakinya yang bekas pakai untuk disumpalkan ke mulut cerewet Tata. “Idih. Kamu bilang pacarmu yang akuntan itu sudah bantuin kenapa sekarang mau minta bantuan suamiku.” Dulu Tata yang hobi gonta ganti pacar sering mengejek Ica, apalagi saat dia hanya bisa iri ketika Tata dikasih hadiah macam-macam oleh pacarnya, bahkan tak jarang pacar Tata yang kebanyakan kakak tingkat atau bahkan pekerja kantoran itu membantunya mengerjakan tugas. Sedang dia? Boro-boro!!Jangankan ngasih hadiah. Jalan berdua saja Ica yang bayar, belum lagi saat ujian CPNS, Ica lah pihak yang paling rempong membuat kisi-kisi s

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 75

    “Mas!!” seru Ica. Tanpa basa-basi wanita itu menggamit lengan suaminya yang baru saja bicara dengan pak RT. “Apa?” pria itu menjawab dengan wajah datar sambil melihat tautan tangan Ica di lengannya. “Kan mas yang suruh aku datang, itu aku bawa kue yang dibuat bu Mirah.” Ica berbicara seriang mungkin sambil memperlihatkan tas berisi kue buatan bu Mirah pada suaminya. “Oh,” katanya, tapi pria itu hanya diam saja bahkan mengabaikan panggilan beberapa orang bapak-bapak di pos ronda. “Tuh di panggil, mas,” kata Ica seolah dia tak tahu kalau Saka kesal padanya. Saka sih nggak marah-marah atau mengatakan sesuatu yang buruk atau kasar ya, cukup melihat sorot matanya Ica sudah tahu. Ica memang peka dan perhatian pada orang bukan seperti suaminya yang kalau tidak diguyur air mana dia ngerti ada atap bocor. Bukannya jalan mendekati orang yang memanggilnya, Saka masih diam ditempat menatap tautan tangan mereka. “Ca, lepasin.” Ica menoleh dan menatap suaminya tajam. “Memangnya kenapa, mal

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 74

    Mereka baru saja sarapan pagi satu jam yang lalu, tapi Bu Mirah yang biasanya sudah duduk-duduk menemani ica ngobrol atau sekedar menanam tanaman bersama di damping rumah malah sibuk di dapur. “Ibu mau buat apa kok bawa dandang sebesar itu?” Bu Mirah menoleh sejenak, tapi tak menjawab pertanyaan iCa, dia meneruskan langkah lalu meletakkan dandang besar ang di bawanya di lantai. “Lho mbak Ica nggak tahu ya.” Ica hampir memutar bola matanya, dia benci kalau orang sudah bilang kayak gitu padanya. Memangnya Ica peramal yang tahu apapun seebelum mereka ngomong. “Nggak saya nggak tahu,” jawab Ica sebal. Bu MIrah malah terkekeh melihat wajah cemberut Ica. “Maaf, mbak, saya kira mas Saka sudah ngomong sama mbak ica.” Ica mengerutkan keningnya. Saka sudah berangkat ke pasar tadi bersama pak Sarmin dan hanya meninggalkan dia dan Bu Mirah seperti biasa. Ica melangkah mendekat menatap bu Mirah dan dandang besar itu. “Enggak bu, apa mau ada acara pengajian atau apa?” Tanyanya. Di kampun

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 73

    “Aku kira buahnya rasanya nggak enak,” kata Ica. Tangannya memeluk erat dua pot tanaman jeruk dan jambu air. Saka yang memberinya, tepatnya Ica yang terus menatap kedua jenis tanaman itu dengan pandangan tertarik jadi Saka berinisiatif menghadiahkan untuknya. “Sembarangan, kami melakukan penelitian khusus untuk itu, baik tampilannya juga rasanya, seharusnya tadi kita mengambil semua samplenya agar kamu bisa mencicipi satu persatu.” “Iya deh bapak petani aku percaya kok,” kata ica sedikit menggoda suaminya. Saka itu memang orangnya kalem dan cuek tapi kalau sudah bekerja sangat serius apalagi tadi sempat ada insiden kecil salah satu karyawan di sana yang mengatakan. “Halah tampang kayak gitu paling bentar lagi juga dilepeh, pak Saka kan temannya cantik-cantik ada artis juga.” Mereka nggak tahu saat itu Saka ada di belakang mereka, sedangkan Ica sedang ngobrol dengan mbak Wati yang meski terlihat nggak ikhlas menemaninya tapi tetap bersikap profesional saat mendengar suara k

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 72

    “Ibu usul bagaimana kalau kita menggunakan tanaman produk Darma group sebagai souvenir pernikahan kita.” Baru sore hari mereka akhirnya mengakhiri pengalaman menyenangkan itu, bahkan petugas hotel yang bolak-balik mengetuk pintu tak mereka hiraukan, barulah saat perut Ica berbunyi nyaring, Saka berhenti memonopoli istrinya, dengan tertib mereka mandi bergantian, karena kalau sampai mandi bareng bisa dipastikan akan memakan lebih banyak waktu. Terlalu lelah untuk mencari makan di luar Saka memutuskan untuk memesan makanan lewat layanan kamar saja. Mereka makan dengan rakus saking laparnya, bahkan petugas restoran yang mengantar harus bolak-balik tiga kali untuk mengantarkan pesanan mereka. Setelah itu mereka memutuskan untuk tidur sejenak sebelum berkemas untuk pulang. Sebenarnya ibu mertuanya memesankan paket bukan madu dua hari dua malam, tapi Saka mendapat telepon dari perusahaan kakaknya kalau ada sedikit masalah, mau tak mau mereka harus pergi. “Yang kayak tanaman di r

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 71

    “Kalian sudah ada di sana? Mana Ica?” Ica yang sedang menikmati pemandangan di luar kamar menoleh saat terdengar suara ibu mertuanya dan dengan isyarat tangan Saka memintanya mendekat. Perlahan Ica berdiri dari duduknya dan menghampiri sang suami. Wajah ibu mertuanya terpampang jelas di layar ponsel Saka. “Ibu tahu kami akan ke sini?” tanya Ica pelan pada sang suami. “Ibu yang pesankan kamar di sana, apa kamu nyaman, nak? Atau mau pindah ke kamar lain?” Oalah ternyata ibu mertuanya adalah sponsor utama kejadian ini, pantas saja suaminya yang bisanya lempeng dan tidak peka tiba-tiba mengajaknya ke hotel bintang lima dan pemilihan kamarnya juga tidak main-main, paket bulan madu dengan fasilitas president suite. Saat pertama kali masuk mereka disambut dengan hiasan bunga yang dibentuk indah memenuhi kamar. Juga pelayan yang menyediakan minuman dan camilan untuk mereka, tak lama kemudian pelayan lain datang membawakan pakaian mereka, tapi yang membuat Ica hampir menjerit adalah

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 6

    Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 5

    Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 2

    Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 1

    “Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mere

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status