Rania masuk dengan senyum mengembang sempurna. Ia kini mendekati Aston, lalu kembali berbisik di dekat wajah tampan itu. "Aston sayang... Sebentar ya, aku mau make-up dulu. Nanti setelah aku cantik, kita baru akan menikah." Setelah memastikan pintu tertutup kembali dengan rapat. Aston segera bangkit, berjalan mengendap ke arah pintu, membuka sedikit celah, memperlihatkan di luar terdapat dua penjaga bersenjata yang berdiri di tengah-tengah ruang. Ia menutup kembali pintu itu. Untuk sejenak, Aston tampak berpikir. Ia mengedarkan mata, mencari obat bius yang Rania simpan dalam ruangan kamarnya tadi. 'Aku harus segera menemukan obat bius itu, sebelum Rania selesai bermake-up.' Aston beranjak menuju nakas, membuka satu persatu laci, namun lagi-lagi hasilnya nihil. Hingga, pandangan tajamnya langsung tertuju pada sebuah kotak hitam mencurigakan di atas nakas sudut ruang. Mata Aston memicing, namun ia segera membuka isi kota
Read more