Aston agak ragu. Wajahnya seolah tak percaya. Sementara Mama Lusy, setelah mengatakan itu, dirinya langsung melenggang masuk ke dalam. Aston menatap Alena, dagu kekasihnya itu menyuruhnya masuk. Karena tak ada pergerakan apapun saking terperanjatnya, Alena langsung menarik tangan itu. Menggelendeng Aston hingga tiba di ruang tamu."Duduk, Aston!" suara Mama Lusy mendominan.Alena duduk di dekat Mamanya, ia hanya mengangkat bahu acuh, seolah tak tahu apa-apa.Rasanya panas dingin, lebih menyeramkan daripada dinginnya ruangan operasi. Bagi Tama, tajamnya pisau bedah lebih tajam tatapan Mama Lusy. Sudah bertahun-tahun menjadi Dokter, menghadapi segala macam keluhan penyakit, mengenal sifat-sifat seseorang dibalik cara penyampaian ucapannya, tapi baru kali ini ia merasa berhadapan dengan seorang Profesor Doktor yang sangat profesional.Setelah menatap dengan cara menelisik, barulah Mama Lusy membuka suara."Kamu kapan melamar putri saya?!"
Read more