Aston terdiam, ruangan mobil kembali hening. Mungkin kalimat Rania tidak memiliki arti lebih. Tapi nyatanya, ada perasaan ketersinggungan yang melingkupi hatinya. Bukan karena tak ada rasa simpati, tapi untuk mengurai kejadian tadi malam, sulit sekali ia langsung dapat berpikir jernih. Sedangkan, hanya karena rasa yang masih tertanam, Rania tanpa peduli, tanpa takut resiko yang dirinya dapat, tanpa berpikir dua kali, bertindak sesuai kata hati yang masih menyisakan cinta, hingga membuat kerugian besar yang perlahan menggerogoti hidupnya. "Jangan pernah melibatkan perasaan dalam setiap kejadian, Rania! Aku faham kemana arah bicaramu. Tapi untuk saat ini, aku tidak dapat memberikan balasan lebih. Hidup kita sudah berbeda. Dan jika saja malam itu aku dapat meminta, maka Alena lah yang ku tarik untuk menemani malam panjang itu. Dia kekasihku, dan sudah pasti aku akan menikahinya." Aston mencengkram setir mobil, pandangannya lurus ke depan. Lalu ia menatap
Read more