Alena tak mempedulikan. Ia sejujurnya kasian, padahal kamar ini milik Aston, tapi dengan masa bodoh ia menganggap kamar itu adalah wilayahnya. Waktu sudah menunjukan hampir pukul 12 malam. Beberapa kali memejamkan mata, nyatanya Alena sudah ketagihan tidur dalam dekapan Aston. "Ish... nyebelin banget sih! Masak tinggal tidur, merem, harus nunggu Dokter itu pok-pok badan aku. Nggak. Lagian aku masih kesel sama Dokter tampan itu," gerutu Alena setelah bangkit. Tapi tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Alena menggapainya di atas nakas. Nama sang Kakak tertera, membuat Alena bertanya-tanya ada apa malam larut seperti ini kakaknya telfon. "Hallo, apa ha? Kangen Alena ya, Kak Mike?" "Ih, kepedean banget. Siapa coba yang kangen kamu. Malah enak, makan ayam gorengnya nggak ke bagi-bagi, wle..." balas tengil Mike. "Ih, Mama... Awas saja, Alena aduin sama Mama dan Papa!" kesalnya. Bibir Alena semakin panjang, maju bebera
Read more