Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Dinding putih bersih ruang rawat VVIP di Munich ini benar-benar telah bertransformasi menjadi neraka baruku. Aku hidup, bernapas, dan detak jantung bayiku semakin menguat, namun jiwaku rasanya seperti mati berkalang tanah."Buka mulutmu sekarang, Sarah. Sedikit lagi, sup ini harus habis," perintah Aditya dengan nada lembut namun menuntut. Ia duduk di tepi ranjang, menyodorkan sendok perak ke depan bibirku yang terkatup rapat."Aku sudah kenyang sekali, Mas. Tolong, perutku mual jika terus dipaksakan," tolakku lirih, memalingkan wajah menatap jendela berlapis kaca ganda di luar sana."Jangan berani membantah suamimu, Sayang. Professor Hoffman bilang berat badanmu masih berada di bawah standar ibu hamil yang sehat," desis Adit, rahangnya mulai menegang kaku. "Atau kau ingin aku menyuntikkan nutrisi itu secara paksa melalui selang infusmu lagi seperti kemarin lusa?"Aku menelan ludah dengan susah
Última actualización : 2026-08-17 Leer más