[Sudut Pandang Raditya]Pintu kayu ek itu tertutup rapat, menyisakan gema bantingan yang memekakkan telinga. Aku mematung selama beberapa detik, mendengarkan langkah kaki Aditya yang menjauh dengan beringas menyusuri lorong.Begitu aura mematikan sang diktator benar-benar lenyap, aku menghembuskan napas panjang.Kakiku nyaris lemas tak bertulang."Radit ..." panggil Sarah dengan suara bergetar.Ia menyingkap selimutnya, wajah pucatnya dipenuhi peluh dingin. "D-dia sudah pergi?""Iya, Sayang. Dia sudah pergi," bisikku, bergegas menghampirinya. Kurengkuh tubuh rapuh itu ke dalam pelukanku. "Kita berhasil mematahkan kecurigaannya malam ini."Sarah membalas pelukanku dengan sangat erat, isak tangis kelegaan meluncur dari bibirnya. "Aku ketakutan setengah mati, Radit. Aku pikir dia akan benar-benar menembak kepalamu di depanku tadi.""Selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkan monster itu menang," bala
Última actualización : 2026-08-27 Leer más