Hari-hari berikutnya berlalu seperti bayangan abu-abu. Waktu tak lagi memiliki makna di dalam ruang rawat VVIP bersalju ini. Ancaman Aditya tentang nyawa ibuku sukses besar membunuh sisa-sisa perlawananku.Aku tak lagi menangis, tak lagi meronta, dan tak lagi memohon. Kewarasanku telah hancur berkeping-keping, menyisakan cangkang kosong yang bernapas hanya demi satu hal: memastikan ibuku tetap hidup di paviliun sana.Pintu kamarku terbuka. Aditya melangkah masuk dengan senyum lebar yang terlihat begitu memuakkan, membawa sebuah gaun sutra berwarna pastel di tangannya."Lihat apa yang Mas bawakan untukmu hari ini, Sayang," sapa Aditya riang, seolah tak pernah ada luka mental yang ia torehkan padaku. Ia meletakkan gaun itu di pangkuanku. "Cobalah. Kau pasti terlihat sangat cantik mengenakannya.""Terima kasih, Mas," jawabku datar.Suaraku terdengar sangat serak, tanpa intonasi, tanpa emosi. Sama persis seperti robot yang diprogram
Última actualización : 2026-08-19 Leer más