"Kenapa, Dok?" bisikku lirih, menahan pergelangan tangan Dokter Hilman yang kini hendak meraih tas ranselku. Air mata kembali menggenang dan jatuh membasahi pipiku."Kita berdua sama sekali tidak memiliki hubungan darah. Kenapa Dokter rela mengorbankan seluruh masa depan dan karir medis yang cemerlang itu, hanya demi seorang wanita asing yang membawa segudang masalah fatal sepertiku?"Dokter Hilman menahan napasnya sejenak. Ia membalikkan badannya secara perlahan, menatapku dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan."Itu murni karena wajah Anda, Mbak Sarah," jawab Dokter Hilman dengan suara bergetar pelan, namun terdengar begitu tegas."Wajahku? Maksud Dokter apa?""Iya, wajah Anda. Sejak pertama kali saya menangkap tubuh Anda yang limbung tak berdaya di peron tadi, saya melihat sorot mata yang teramat menyedihkan," jelasnya cepat, sembari terus memantau pergerakan bayangan gelap dari balik kaca buram pintu klinik.
Last Updated : 2026-08-10 Read more