Selama bertahun-tahun menjadi pelayan rendahan di Istana Al-Qamar, Nayla tidak pernah meminta keistimewaan apa pun.Namun hari itu... ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Panglima Rafiq.Dan mengulurkan satu permohonan yang mempertaruhkan keselamatan nyawanya.Panglima Rafiq berdiri kokoh di samping ranjang kayu dengan kedua tangan bersedekap rapat di depan dada.Matanya menatap tajam ke arah Nayla, menunjukkan raut wajah yang sepenuhnya menolak."Hamba mohon, Panglima Rafiq. Hamba harus bertemu dengan pelayan itu," ucap Nayla seraya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, suaranya bergetar menahan harap.Rafiq menggelengkan kepalanya dengan sangat tegas."Tidak, Nayla. Jawabanku tetap tidak.""Tapi ini sangat penting untuk pengungkapan penyelidikan Anda—""Kondisi fisikmu belum pulih sepenuhnya, Nayla!" potong Rafiq dengan intonasi naik satu nada, memancarkan rasa khawatir yang mendalam."Kau baru saja memuntahkan darah begitu pekat kemarin lusa. Masuk ke lorong
Terakhir Diperbarui : 2026-08-06 Baca selengkapnya