LOGINSultanah Mariam mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah di istana. Namun perubahan itu bukan pada Nayla, melainkan pada Sultan. Selama beberapa hari terakhir, Sultan semakin sering meminta Nayla berada di ruang kerjanya. Bukan hanya untuk menyiapkan dokumen atau makanan, tetapi juga untuk mendengarkan pendapatnya. Dan bagi Sultanah, hal itu mulai menjadi sesuatu yang harus diperhatikan.Sultanah Mariam berdiri anggun di balkon paviliun pribadinya, memandangi pantulan gemericik air mancur di taman tengah istana. Wajahnya tampak begitu tenang tanpa riak emosi, namun sepasang matanya yang tajam menyimpan kalkulasi politik yang sangat mendalam.Di belakangnya, seorang dayang kepercayaan berdiri mematung dengan kepala tertunduk patuh, menunggu perintah dari sang penguasa harem.Sultanah membalikkan badan perlahan, jubah sutra ungunya menyapu lantai marmer putih dengan desiran halus."Katakan padaku, apa yang dilakukan gadis desa itu akhir-akhir ini?" tanya Sultanah Mariam dengan nad
Sebuah surat tiba di kediaman Safiya pada sore hari. Begitu melihat lambang kerajaan di bagian luar amplop, wajah Safiya langsung berubah. Ia mengenali pengirimnya.Ibu Suri Nadira.Jantung Safiya berdegup kencang saat jemarinya menyentuh segel lilin emas berlambang burung elang timur.Ia segera masuk ke ruangan pribadinya dengan langkah terburu-buru, menyapu pandangan ke penjuru paviliun.Ia membanting pintu kayu tebal itu dan menguncinya rapat dari dalam. Safiya berdiri mematung beberapa detik, memastikan tidak ada selir lain atau dayang suruhan Sultanah Mariam yang menguping di koridor luar sebelum ia merobek segel tersebut.Napas Safiya memburu saat membaca bait demi bait tuntutan dari wanita paling berpengaruh di masa lalu istana itu.Rasa dengki yang membakar dadanya kian memuncak ketika mengingat posisi Nayla yang semakin tak tersentuh di sisi sang Sultan.Jemari Safiya bergerak cepat menyambar pena bulu dan membuka botol tinta hitam pekat di meja riasnya.Ia mulai menulis sura
"Duduk."Hari itu Nayla bersiap berdiri seperti biasa ketika Sultan makan siang. Namun sebelum ia sempat mengambil posisi di belakang kursi Sultan, suara dingin itu menghentikannya.Nayla membeku di atas lantai marmer. "Yang Mulia Sultan?"Sultan menunjuk kursi kosong di hadapannya dengan ujung dagunya. "Aku menyuruhmu duduk."Nayla mengerjapkan matanya berulang kali. Otaknya mendadak macet total menghadapi situasi yang sangat melanggar hukum istana ini.Ia menatap kursi berlapis beludru merah marun di hadapan sang penguasa dengan ragu dan waswas."Hamba?" tanya Nayla pelan, memastikan pendengarannya tidak salah menangkap titah.Sultan Azfar meletakkan cangkir peraknya ke atas meja tanpa ekspresi di wajah tampannya yang dingin."Ada orang lain di ruangan ini selain kita berdua, Nayla?" cetus Sultan datar.Nayla refleks melihat ke sekeliling ruangan megah yang sunyi, lalu kembali menatap mata gelap sang penguasa. "Tidak ada, Yang Mulia Sultan.""Kalau begitu, menurutmu aku sedang bicar
Sejak kejadian racun, Nayla mulai menyadari satu hal. Ke mana pun ia pergi, selalu ada prajurit yang mengikutinya.Awalnya ia mengira itu hanya kebetulan. Sampai suatu pagi, ketika Nayla berhenti di lorong untuk mengambil sesuatu yang terjatuh, dua prajurit di belakangnya ikut berhenti.Nayla menoleh. Mereka langsung pura-pura melihat arah lain. Nayla menghela napas."Ini sudah berlebihan."Nayla merapikan lipatan kain gaun katun sederhananya, lalu berbalik memutar tumit dengan ketukan mantap.Ia tidak kembali ke ruang perawatan atau paviliun, melainkan melangkah tegas menyeberangi lapangan batu menuju sayap barat benteng.Dua prajurit bertubuh kekar di belakangnya tersentak panik, terpaksa mempercepat derap langkah sepatu bot besi mereka demi mengimbangi langkah cepat gadis itu.Nayla melangkah mantap memasuki gerbang barak pertahanan dalam tanpa ada keraguan di matanya. Suara denting pedang yang diasah dan bau minyak senjata menyambut indra penciumannya di aula utama.Di ujung meja
Kabar tentang keberanian Nayla menyebar lebih cepat daripada yang Safiya inginkan.Bukan karena Nayla melakukan kesalahan, justru karena Sultan mulai mendengarkan pendapatnya.Selir Safiya mengunci pintu aula pribadinya dengan bantingan pelan yang membentur bingkai kayu tebal.Di dalam ruangan, Jihan, Layla, dan Amira sudah menunggu dalam keheningan yang mencekam.Suasana pertemuan malam itu jauh lebih tegang dibanding sebelum-sebelumnya.Bau kemenyan wangi yang dibakar di sudut ruangan sama sekali tidak mampu menenangkan ketakutan yang menggantung keras di udara.Layla duduk meremas bantal kursi sutranya kencang-kencang, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan wajahnya pucat bagai orang mati.Ia beberapa kali menoleh histeris ke arah pintu kayu, napasnya memburu pendek dan tidak teratur."Kita seharusnya tidak melakukan hal gila ini lagi... aku mohon, Safiya. Hentikan..." suara Layla bergetar hebat, nyaris berupa bisikan ketakutan.Safiya
Pagi berikutnya, Nayla melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.Di hadapan Sultan dan seorang pejabat kerajaan, ia berani mengatakan bahwa sebuah keputusan tidak masuk akal.Sultan Azfar sedang duduk memeriksa laporan distribusi makanan untuk beberapa desa di wilayah barat kesultanan.Suara ketukan pena bulu miliknya berirama lambat di atas meja mahoni yang dingin.Di sisi meja, Nayla berdiri tegap membantu menyusun berkas-berkas yang telah ditandatangani.Tugasnya kini memang melekat penuh mendampingi Sultan selama jam kerja di dalam ruang kebangsawanan yang megah.Sultan Azfar tiba-tiba menghentikan pergerakan tangannya, lalu menyodorkan sebuah gulungan perkamen tebal ke arah Nayla."Baca," perintah Sultan pendek tanpa menolehkan wajahnya dari meja.Nayla terkejut sejenak, matanya menatap gulungan itu sebelum menerimanya perlahan. "Hamba, Yang Mulia Sultan?"Sultan Azfar menaikkan pandangannya, menatap gadis di hadapannya dengan sepasang iris kelam yang dingin."Me







