Selama beberapa jam berikutnya, Tiffany benar-benar menyatu dengan kesibukan gila yang terjadi di dalam bangsal darurat yang tidak pernah sepi itu. Dia bergerak dari satu tirai pasien ke tirai pasien lainnya, memeriksa tekanan darah, mengganti balutan luka berdarah, hingga menuliskan resep obat dengan ketelitian tinggi. Dia sengaja menolak waktu istirahat makan siang, memilih untuk terus berdiri di samping ranjang pasien demi menjaga otaknya agar tetap berputar pada hal-hal logis dan terukur.Namun, ketahanan mental yang biasanya sekeras baja itu perlahan-lahan mulai menunjukkan retakan halus yang tidak bisa dia sembunyikan lagi dari para bawahannya. Saat sedang memeriksa seorang anak kecil yang terkena demam tinggi di bilik penanganan tiga, tangan kanan Tiffany kedapatan gemetar pelan saat memegang gagang stetoskop. Dia salah meraba posisi dada sang anak, meletakkan alat pendengar itu di area perut sebelum akhirnya tersadar dan membetulkan posisinya dengan canggung."Dokter Tiffan
Read more