LOGIN"Kamu menangis di ruang keluarga, memohon ampun padaku atas kelakuan putri kandungmu," kenang Arthur."Kamu bilang kamu rela membuang Chloe ke jalanan demi menjaga kehormatan keluarga Sinclair.""Kamu bersumpah bahwa kamu adalah istri yang setia dan akan selalu menempatkan diriku di atas segalanya."Arthur mengucapkan setiap kata itu dengan penuh penekanan, menyiksa batin Beatrice dengan mengulang kembali janji-janji palsu wanita itu.Beatrice makin menundukkan kepalanya, rasa malu menelan habis seluruh kesombongannya malam ini.Ratusan pasang mata yang mendengarkan ucapan Arthur makin memberikan tatapan jijik pada wanita itu.Seorang ibu yang rela membuang anak kandungnya demi uang adalah level kejahatan moral yang paling rendah di mata masyarakat."Kamu sangat pandai berakting, Beatrice," puji Arthur dengan nada sarkas yang tajam."Kamu menipuku mentah-mentah. Kamu membuatku merasa bersalah karena pernah mencurigaimu.""Kamu membuatku merasa berutang budi padamu karena sud
"Palsu kamu bilang?!" bentak Arthur memotong racauan istrinya.Arthur menuruni anak tangga panggung dengan langkah berat, mendekati istrinya yang masih bersimpuh di lantai.Pria tua itu berhenti tepat di depan Beatrice, ujung sepatu kulit mahalnya nyaris menyentuh lutut wanita tersebut."Fotografer profesional mengambil gambar itu saat kamu sedang asyik menikmati anggur mahal bersamanya di vila perbukitan!" tekan Arthur tanpa ampun."Kamu mau menyangkal pantulan wajahmu sendiri?! Kamu mau menyangkal baju yang kamu pakai di foto itu?!" lanjut Arthur menelanjangi kebohongan istrinya.Beatrice mendongak menatap suaminya, wajahnya berantakan oleh air mata dan riasan maskara yang luntur menghitam.Rambut sasak tingginya yang tadi tertata rapi kini berantakan, beberapa helainya jatuh menutupi sebagian wajah pucatnya."Arthur, tolong dengarkan aku dulu," rintih Beatrice memohon belas kasihan."Aku bisa jelaskan semuanya. Hector menjanjikan keuntungan besar untuk perusahaan kita kala
Urat-urat halus menonjol keras di pelipis Arthur Sinclair saat ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi.Napas pria tua itu menderu kasar, menyedot seluruh sisa oksigen di dalam aula pesta yang mendadak terasa amat mencekik.Belasan lembar foto beresolusi tinggi di dalam genggamannya seolah menjadi senjata tajam yang siap mencabik-cabik harga diri wanita di depannya.Beatrice Rosewood hanya bisa berlutut di bawah panggung, menengadahkan wajah pucatnya dengan mulut terbuka tanpa suara.Mata cokelat wanita itu membelalak liar, merekam detik-detik saat lengan suaminya mengayun deras ke arah bawah."Ambil semua sampah ini, pelacur!" raung Arthur dengan suara serak yang memecahkan gendang telinga.Tangan Arthur menghempaskan tumpukan foto itu dengan tenaga penuh tepat ke arah wajah istrinya.Ujung-ujung kertas foto yang tajam menghantam pipi, dahi, dan hidung Beatrice secara bersamaan.Beatrice memekik tertahan, memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan perih goresan kertas menyayat
"B-bagaimana ... kamu ...," gagap Beatrice tidak sanggup merangkai satu kalimat penuh."Kamu pikir kamu pintar? Kamu pikir kamu bisa menipu mataku selamanya?!" bentak Arthur membungkukkan badannya menyejajarkan wajahnya dengan istrinya."Kamu merampok uang perusahaan dan membawa berkas-berkas rahasia Sinclair Group untuk dijual pada musuh terbesarku!""Kamu menyerahkan titik kelemahan perusahaanku pada pria bangsat yang pernah mencoba menghancurkan keluargaku sepuluh tahun lalu!" teriak Arthur sangat murka.Tamu undangan yang mayoritas adalah kolega bisnis langsung menebak nama musuh yang dimaksud oleh Arthur.Hanya ada satu pria di ibu kota ini yang memiliki dendam kesumat pada keluarga Sinclair dan selalu mencari cara untuk menjatuhkan mereka."Hector Sterling," gumam seorang direktur perusahaan yang berdiri di barisan depan.Nama itu menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut di antara kerumunan tamu.Keterkejutan para sosialita kini berubah menjadi rasa jijik dan ngeri yan
Tidak ada sedikit pun rasa iba yang tersisa di hatinya. Semua kenangan manis mereka telah berubah menjadi racun mematikan yang siap ia muntahkan malam ini juga."Melindungi dirimu sendiri? Kamu merampokku sampai habis dan menyebutnya sebagai bentuk perlindungan diri?!" maki Arthur tidak habis pikir."Kamu adalah parasit paling menjijikkan yang pernah hidup menempel di dalam rumahku, Beatrice.""Kamu mengusir Chloe tiga hari lalu dan berpura-pura menangis sedih di depanku demi menunjukkan kesetiaanmu.""Padahal kamu membuang anak kandungmu sendiri ke jalanan hanya agar posisimu di surat wasiat ini tidak terancam sama sekali!" bongkar Arthur soal insiden pengusiran Chloe.Beberapa tamu undangan yang mengenal Chloe langsung saling berbisik, menyadari betapa kejamnya hati seorang ibu yang rela membuang anak kandungnya demi uang.Beatrice menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisannya makin pecah menyadari seluruh topeng kebaikannya sudah terkelupas habis tanpa sisa.Ia tidak bi
"Dua tahun lalu, aku terkena serangan jantung parah. Pembuluh darahku pecah dan aku harus masuk ruang gawat darurat selama dua minggu," cerita Arthur dengan suara bergetar menahan tangis amarah."Aku berjuang di antara hidup dan mati, bernapas menggunakan mesin bantuan, dan tidak sadarkan diri sama sekali.""Aku pikir istriku sedang menangis berdoa untuk kesembuhanku di luar ruangan kaca itu.""Tapi ternyata, wanita ular ini memanfaatkan masa komaku untuk menyewa ahli pemalsu tanda tangan!" bongkar Arthur melemparkan fakta mematikan berikutnya.Kerumunan tamu kembali tersentak, beberapa nyonya sosialita bahkan menutup mulut mereka saking kagetnya.Beatrice mundur dua langkah, tubuhnya terhuyung ke belakang seolah baru saja didorong oleh tangan yang tidak terlihat.Penyebutan kata pemalsu tanda tangan benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasannya malam ini.Ia tidak pernah menceritakan masalah penjualan tanah itu kepada siapa pun, bahkan pada Chloe sekalipun."Arthur ... k-
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan
Beatrice meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus namun tajam, lalu meraih tangan Chloe yang masih terulur manja ke arah Arthur. Tatapannya tertuju lurus pada suami yang kini tampak bimbang di bawah pengaruh kata-katanya. Dia mengusap punggung tangan Chloe dengan penuh kasih sayang yang
Tiffany menarik napas panjang, menata detak jantungnya agar tetap stabil sebelum melangkah keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni tangga pualam terasa begitu nyata, membawa ingatan menyakitkan sekaligus harapan baru yang menyala terang. Suara tawa samar dari ruang keluarga terdengar semakin







