Tangan Wang Ming mengepal di sisi tubuhnya, kuku menancap hingga telapak tangannya terasa sakit. Ia menatap tanah taman yang lembap, napasnya terasa berat menekan dadanya. Kata-kata Kasim Liang benar, dan kenyataan itu membuatnya semakin murung. Ia tidak bisa bertindak semata-mata karena amarah, bukan saat nasib rakyat masih bergoyang dan kedudukannya pun belum sepenuhnya kokoh."Jadi aku harus menahan diri," ucapnya pelan, suaranya penuh kepahitan. "Sementara dia terbaring lemah di kamar karena ulah wanita itu, aku malah harus berpura-pura tidak tahu apa-apa.""Yang Mulia tahu itu bukan hal yang mudah, tapi itu langkah yang paling bijak saat ini," jawab Kasim Liang lembut namun tegas. "Kita tidak bisa membiarkan kerusuhan meletus di tengah ketidakpastian. Tapi itu bukan berarti kita diam saja. Kita mengumpulkan bukti, kita menenun jaring, dan saat waktunya tiba, tidak ada satu pun yang bisa lolos."Wang Ming mengangguk pelan, lalu berbalik arah bukan menuju kediaman Mei Ling, melai
Read more