"Na-nanti lagi ya, Mas. Aku harus beres-beres. Permisi." Azalea mau masuk, tapi Bara memanggilnya lagi dengan suara pelan dan terdengar sendu.“Zel, bentar... satu lagi...”Azalea berhenti, tidak balik badan, masih pegang gagang pintu.Bara di depan pagar, hujan rintik mulai turun lagi, bahunya basah.“Aku... aku ingin minta maaf atas apa yang aku lakukan ke kamu selama 2 tahun, Zel. Atas kata-kata Ibu, atas aku yang diem aja waktu kamu disuruh minum jamu tiap hari, atas aku yang bentak kamu, atas... atas semua, Zel. Maaf ya, Zel...”Suara Bara pecah. Laki-laki itu yang dulu keras, sekarang menunduk seperti anak kecil.Azalea mengangguk saja, tidak menatap Bara. Dadanya sesak.“Iya, Mas Bara. Aku maafkan,” jawabnya pelan.Tapi dia bilang lagi, dengan suara lebih tegas, tolong jaga jarak karena dia masih trauma terhadap Bara.“Tapi tolong, Mas Bara... tolong jaga jara
Read more