“PAPAAA!!! PAPA BANGUN, PA!!!”Teriakan Bu Lidya dan Vanessa memecah seluruh lantai 3 VIP. Perawat jaga yang sejak tadi hanya berani mengintip dari luar langsung lari masuk, menekan tombol emergency biru di dinding.TING NONG! TING NONG!“CODE BLUE! VIP 302! CODE BLUE!”Dalam 30 detik, ruangan itu penuh. Dua perawat, satu dokter jaga IGD, dan satu troli resusitasi didorong cepat.Pak Hasan tergeletak di lantai, posisi miring. Wajahnya pucat abu-abu, bibirnya sudah membiru. Keringat dingin membasahi kemeja batiknya. Mata terpejam.Bu Lidya dipeluk perawat dan ditarik mundur. “Ibu, minggir dulu, Ibu! Kasih kami ruang!”Vanessa di ranjang hanya bisa menangis histeris, tidak bisa turun. “Papa! Papa jangan tinggalin Vanessa, Pa! Pa!”Dokter jaga, dr. Rian, langsung jongkok, ia mengecek nadi karotis.“Nadi tidak teraba! Tidak ada napas! Mulai RJP!”Perawat lang
Read more