Dinda mengerutkan keningnya. “Tapi dia yang teriak, Ton,” ketus Dinda, “jangan bilang kalau dia kaget liat punya kamu yang terlalu kec —” “Itu karena aku dorong dia!” Potong Toni. “Dia pikir aku jual diri, apa! Aku bukan gigolo. Aku ini terapis! Aku nggak mau makan uang haram.” Raka langsung tersenyum. Tentu saja karena ia tahu apa yang biasa Ardy lakukan. Di ruang VIP saja dia berani berbuat nakal. Apalagi di ruang VVIP yang tertutup dan kedap suara itu. Pasti dia akan lebih leluasa untuk melakukan hal yang lebih lagi. Dinda melirik Raka. Entah kenapa ia yakin Raka bisa diandalkan untuk mengatasi orang-orang paling sulit sekalipun. “Kanda,” panggil Dinda dengan suara manja yang jelas dibuat-buat itu, “tolongin Dinda dong, gantiin Toni urus Tante Dinar, pleaseee ….” Raka tertawa pelan. “Dinda, kamu mau Kakandamu ini dipegang-pegang sama tante di dalam sana?” Dinda mengerucutkan bibirnya. “Te
Read more