Raka baru saja menjagrak motor bututnya saat Dinda melongokkan kepalanya dari jendela klinik. Tak biasanya gadis manis itu seperti tak sabar menunggunya hingga masuk ke dalam. “Ka, udah ada yang nungguin, tuh!” “Siapa? Dinda nggak lagi ngerjain Kanda, kan?” goda Raka, sementara tangannya sibuk membuka bagasi demi mengeluarkan tas ranselnya. “Dih, siapa juga yang ngerjain,” ketus Dinda. Entah kenapa ia mulai kesal karena tamu-tamu Raka pagi ini. “Tunggu di situ, aku mesti ngomong sama kamu!” Dinda langsung menutup jendela dan bergegas menghampiri Raka. Raka masih mengatur isi bagasinya. Ia memasukkan jaket diantara jas hujan yang selalu setia menjadi penghuni tetap bagasi di musim kemarau seperti ini. “Ka, kamu tahu nggak. Aku kerja di sini, dibayar buat nerima reservasi pelanggan. Buat nerima tamu-tamu perempuan kamu!” cicit Dinda begitu muncul di depan ruang parkir klinik. “Kamu gila apa, bawa-bawa pacar kamu ke sini? Kalo
Baca selengkapnya