MasukLira memukul dada Raka dengan kepalan tangannya. Walau ia tahu, tinjunya sama sekali tak akan menggoyahkan pendirian lelaki muda itu. Bukan hanya sekali ini, tapi sudah berulang kali Lira menggodanya dan Raka tetap menolak.
“Ka, seandainya kamu mau nerima aku—” “Orang tuamu tetap nggak akan terima aku. Aku ini cuman orang miskin. Orang tua mana yang bakal biarin putrinya nikah sama terapis seperti aku?” potong Raka, “kamu mesti realistis. Aku nggakLira memukul dada Raka dengan kepalan tangannya. Walau ia tahu, tinjunya sama sekali tak akan menggoyahkan pendirian lelaki muda itu. Bukan hanya sekali ini, tapi sudah berulang kali Lira menggodanya dan Raka tetap menolak. “Ka, seandainya kamu mau nerima aku—” “Orang tuamu tetap nggak akan terima aku. Aku ini cuman orang miskin. Orang tua mana yang bakal biarin putrinya nikah sama terapis seperti aku?” potong Raka, “kamu mesti realistis. Aku nggak mau kamu menderita. Aku tetap teman baik kamu, Ra. Aku nggak rela kalau kamu hancurin masa depan kamu sendiri.” Lira mengerjapkan matanya, membuat cairan bening itu melintas di pipinya yang lembut. Raka mengangkat tangannya, mengusap jejak yang tersisa di pipi teman wanitanya. “Kamu harus bahagia, Ra.” Lira menggelengkan kepalanya. “Aku … aku nggak tahu harus gimana, Ka.” Raka menelan ludahnya. “Bagaimana kal
Mendengar permintaan “perempuan yang mengaku pacar Raka”, ditambah dengan nada emosi yang kental di suara itu, membuat Dinda mau tak mau merasa senang. Ia langsung menekan tombol 11. “Calvin! Kamu layani pelanggan umum di kamar VIP. Dia minta terapis cowok yang tampan, kuat dan pengalaman.” Dinda langsung memberitakan lewat intercom ke lantai atas, tempat para terapis menunggu tamunya. “Calvin?” Raka yang tiba-tiba muncul, membuat Dinda terkejut. “Iya. Mending kukasih ke Calvin. Lagian … dia bukan member tetap klinik kita. Itung-itung nolongin Calvin, biar dia nggak terusan jomblo.” Dinda langsung menjawab sekenanya. Gadis yang terlihat manis dengan kepangnya itu menatap Raka dari rambut sampai kaki. Ia langsung terkikik memikirkan alasan Lira meminta terapis pengganti. “Kenapa? Kok Dinda ngetawain Kakanda?” goda Raka. “Hmm … cuman mikir aja.” Dinda mengetukkan pena di tangannya ke keningnya. “Sampai sekejam apa Kakanda Rak
“Menikah … Raka, apa kamu yakin akan menikahi dia?” batinnya bertanya. Menikahi gadis itu berarti menyelamatkan kegadisannya dan itu berarti dia tidak melanggar suara yang melarangnya tadi, tetapi apakah hatinya untuk gadis ini?Tiba-tiba saja secara spontan Lira berjongkok sambil memegang milik Raka yang tak kunjung terkulai. Dia siap melumat milik lelaki itu, menggodanya agar sang pria idaman mau bersatu dengannya.Namun, perbuatan Lira justru membuat Raka tersadar. Pria itu menepis tangan perempuan itu dengan sedikit kasar. Dia mengarahkan tubuh teman mesranya ke bawah pancuran air dingin dan segera keluar dari kamar mandi.“Rakaaa!” Lira menatap Raka tak percaya dengan penolakannya itu.“Lira, hentikan semua ini. Apa yang kita lakukan adalah suatu kesalahan. Kamu gadis baik-baik dan tidak seharusnya seperti ini. Simpan dirimu dan kehormatanmu hanya untuk pria yang benar-benar mencintaimu.” Raka mengambil handuk dan menutupi pinggangnya hingga
Raka menelan ludah. Kata-kata Lira adalah hal yang jujur pasti diinginkan semua pria, keperawanan. Apalagi ucapan itu meluncur tulus dari gadis manis berukuran dada ekstra size.Tangan Lira masih bermain di keintiman Raka. Gerakan lembut itu membuat seluruh darah di otot tersebut berdesir. Raka tak bisa menampik jika dia menginginkan kenikmatan yang lebih lagi.Apalagi saat bayangan ketika pertama kali bersama Lira. Kesempatan menikmati tubuh gadis itu meskipun tidak total, membuat tangannya ingin sekali bergerak dan meremas keindahan si kembar.“Ka … kamu suka aku kan … meskipun kamu belum cinta aku, tidak apa-apa, kita bisa mencobanya dan aku akan jadi istri yang patuh dan memanjakanmu selalu.” Bisikan penuh godaan itu begitu melambungkan.Apalagi ketika Lira tiba-tiba saja menurunkan celana Raka dan langsung menyentuh miliknya yang keras tanpa penghalang. Kulit lembut bertemu dengan otot kerasnya, merupakan perpaduan yang sempurna.Kes
Raka baru saja menjagrak motor bututnya saat Dinda melongokkan kepalanya dari jendela klinik. Tak biasanya gadis manis itu seperti tak sabar menunggunya hingga masuk ke dalam. “Ka, udah ada yang nungguin, tuh!” “Siapa? Dinda nggak lagi ngerjain Kanda, kan?” goda Raka, sementara tangannya sibuk membuka bagasi demi mengeluarkan tas ranselnya. “Dih, siapa juga yang ngerjain,” ketus Dinda. Entah kenapa ia mulai kesal karena tamu-tamu Raka pagi ini. “Tunggu di situ, aku mesti ngomong sama kamu!” Dinda langsung menutup jendela dan bergegas menghampiri Raka. Raka masih mengatur isi bagasinya. Ia memasukkan jaket diantara jas hujan yang selalu setia menjadi penghuni tetap bagasi di musim kemarau seperti ini. “Ka, kamu tahu nggak. Aku kerja di sini, dibayar buat nerima reservasi pelanggan. Buat nerima tamu-tamu perempuan kamu!” cicit Dinda begitu muncul di depan ruang parkir klinik. “Kamu gila apa, bawa-bawa pacar kamu ke sini? Kalo
“Ada apa Raka, apa ada masalah?” tanya Kyra saat melihat penolongnya terlihat gusar.Raka masih melamun, dia tidak konsentrasi dengan pertanyaan perempuan di depannya. Dalam benak laki-laki itu ada rasa geram mendengar apa yang dikatakan oleh Rino.“Menaruh pelacak pada ponselku. Sialan, kapan dia melakukannya. Dasar bocah tengik. Aku harus kasih dia pelajaran.” Raka membolak-balik ponselnya dan mencari fitur yang mungkin ditaruh Rino pada benda pipih itu.Shakira yang melihatnya menjadi bingung. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi tampang Raka menunjukkan kalau pria itu sedang kesal. Janda muda itu menggigit bibirnya. Dia berpikir kalau kekasih Raka pasti sedang marah saat ini, karena pemuda itu tak menepati janjinya. Perasaan Shakira pun jadi tidak enak, merasa dia telah menjadi pengganggu.“Kamu … apa harus pergi ke suatu tempat … kalau iya, tidak apa-apa.” Suara Shakira lemah, berbaur dengan putus asa. Rasa takut itu masih menyel
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan