"Aku ada rencana lain buat Pak Budi dan Pak Buan," ucap Teja datar, mengisi keheningan yang sempat tercipta dalam beberapa saat di ruangan tersebut."Bagaimana, Teja? Kami siap menerima perintah darimu," ucap Budi sopan, membungkukkan sedikit badannya sebagai bentuk penghormatan pada pemuda yang kini ia anggap sebagai panutannya."Apapun itu, aku yakin itu pasti keputusan yang paling baik untuk kami darimu, Ja," timpal Buan ikut membungkuk hormat. Binar matanya menyiratkan kepatuhan tanpa syarat, siap menjalankan instruksi apa pun yang akan keluar dari bibir ketua dua asosiasi daerah tersebut.Teja mengangguk, tak langsung menjawab. Pria berambut panjang itu melangkah tenang menuju bibir ranjang yang empuk, lalu mengambil posisi duduk santai tepat di antara Panda dan Linda. Harum parfum khas dari dua wanita cantik itu menyergap lembut indra penciumannya, namun fokus Teja tetap tertuju penuh pada gambaran besar strateginya ke depan."Aku ingin buka usaha di sini," ucapnya kemudian, m
Magbasa pa