Merasa sudah cukup memberikan pijatan relaksasi pada otot-otot area intim milik Bianca yang kaku, Teja menyudahi pijatannya. Pria berambut panjang itu mengusap pelan paha dalam Bianca untuk terakhir kalinya, membiarkan lelehan gel pelicin dan hawa murni energi Qi meresap sempurna ke dalam jaringan otot panggul sang primadona."Kayaknya udah cukup pijatnya, Bi. Kamu siap buat kita cobain lagi?" tanya Teja lembut, menatap lekat paras cantik wanita di bawahnya.Bianca mengangguk cepat, tak seragu tadi. Rona merah di pipinya masih membara, namun binar matanya kini dipenuhi keberanian dan rasa penasaran yang membuncah.Ia juga bingung dengan kondisi kejiwaan dan pikirannya yang berubah jauh sangat santai dan rileks setelah menerima pijatan Teja tadi. Rasa cemas, takut akan rasa sakit, serta ketegangan emosional yang sempat menggelayuti benaknya perlahan sirna tanpa bekas, berganti dengan sensasi hangat yang menentramkan jiwa.Tanpa Bianca sadari, pancaran energi Qi yang dialirkan Teja da
Magbasa pa