Beranda / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 366. Menanti Momen Tragis

Share

366. Menanti Momen Tragis

Penulis: Leva Lorich
last update Tanggal publikasi: 2026-08-29 13:54:17

"Maaf jika menyela. Tapi, Guru Besar Beno sudah berada di ranah bela diri tingkat tinggi tahap puncak. Selain itu juga menguasai energi Qi tingkat tiga. Sepertinya ini tidak seimbang dan tidak adil buat Teja," Banu mencoba melerai.

Wajah asisten pelatih itu nampak amat khawatir, menyadari bahwa perbedaan pengalaman tempur dan status sosial di antara keduanya bisa berujung fatal bagi keselamatan Teja.

Sorot mata Beno langsung menusuk tajam ke arah Banu.

Pria paruh baya itu memutar kepalanya pe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   623. Telah Resmi

    Mendengar perintah Teja, Desy mengangguk pelan dengan raut wajah yang merona merah. Meski seluruh persendian tubuhnya masih terasa lemas usai diterjang klimaks dua kali berturut-turut, rasa bakti dan dorongan untuk memuaskan sang pria memberinya tenaga baru.Desy bangkit perlahan dengan posisi merangkak. Tubuh seputih kapas milik gadis itu bergerak melangkahi kedua paha tegap Teja. Ia menggeser posisinya hingga duduk berhadapan di atas pangkuan Teja, menyejajarkan selangkangannya tepat di atas batang keperkasaan Teja yang masih berdiri tegap menjulang."Pelan-pelan ya, Des,bkasihan kalau kamu nanti kesakitan," ucap Teja seraya memegang kedua pinggul ramping Desy untuk membantu menjaga keseimbangan.Desy memegang bahu berotot Teja yang tertutup terpaan helai rambut dreadlock panjang milik sang pemuda. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Desy mengarahkan ujung kejantanan Teja ke muara kewanitaannya yang sudah teramat basah. Secara bertahap, Desy menurunkan pinggulnya, membiarka

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   622. Belum Selesai

    Teja mempertahankan irama sorongan pinggulnya secara konstan. Ayunan tubuhnya bergerak stabil, membawa kejantanannya meluncur keluar hingga menyisakan puncaknya, lalu melesak kembali membelah kedalaman lorong intim Desy yang hangat. Gesekan basah yang melapisi selangkangan mereka menciptakan nada tempo yang ritmis di dalam kamar tidur yang sejuk itu.Gerakan Teja sangat bertenaga dan jauh dari kata lelah. Daya tahan fisiknya memang sudah sangat kuat di ranah energi Qi tingkat tujuh ini."Umm... Mmph... Mas Teja... ahh..." rintih Desy pelan dengan napas yang memburu halus.Kedua tangannya yang terbebas kini merayap naik, melingkar lembut di leher tegap Teja. Jemari lentiknya menyusup ke sela-sela rambut panjang Teja yang bergaya dreadlock, mengusap jalinan rambut unik sang pemuda yang terurai jatuh menutupi sebagian bahu kokohnya.Teja menatap wajah ayu Desy yang berada tepat di bawah naungannya. Ia sedikit menaikkan sudut pinggulnya, mengubah arah tumbukan agar ujung tumpulnya secar

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   621. Pangkalan Militer

    Teja bangkit dari posisi berlututnya di lantai keramik. Ia merangkak naik ke atas ranjang empuk, merayap perlahan di atas tubuh seputih porselen milik Desy yang masih terbaring terkulai. Posisi mereka kini selaras dalam gaya misionaris yang intim, dengan dada bidang Teja menaungi wajah ayu sang gadis.Kedua paha mulus Desy terentang pasrah di kanan dan kiri pinggul tegap Teja. Jemari kekar Teja menyusup di antara sela-sela jari lentik Desy, mengunci pergelangan tangannya di atas seprai. Pancar hawa hangat Murni Qi tingkat tujuh berdesir halus dari telapak tangan Teja, menyalurkan ketenangan agar saraf-saraf intim Desy tetap rileks dan siap menerima sorongan miliknya."Rileks ya, Des... Atur napasmu," tutur Teja dengan suara bariton rendah, menatap lurus ke dalam mata bening sang dara.Desy mengangguk pelan, menyunggingkan senyum lembut walau degup jantungnya kembali berpacu cepat tatkala merasakan ukuran super kejantanan Teja menekan perlahan di muara kewanitaannya."Iya, Mas... Ak

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   620. Menahan Rasa Malu

    Teja melanjutkan eksplorasi lidan dan bibirnya pada lipatan kewanitaan Desy. Rekah bibirnya melumat perlahan, sementara ujung lidahnya bergerak memutar di setiap celah sensitif. Sentuhan hangat itu berpadu dengan hembusan napas yang teratur, memicu getaran konstan di sekujur tubuh sang gadis."Nghh... Mas... ahh... geli tapi nikmat banget... ssshh..." rintih Desy blingsatan, kepalanya terkulai miring di atas bantal dengan jemari yang meremas erat seprai.Lidah Teja terus menyapu lembut dari arah bawah menuju tonjolan teratas. Hisapan-hisapan kecil berirama dilayangkan secara konsisten, membuat cairan pelumas alami dari lorong kewanitaan Desy meluap kian banyak dan membasahi area selangkangannya."Emmhh... Mas Teja... pelan-pelan, Sayang... rasanya luar biasa..." desah Desy parau, dadanya yang polos kembang-kempis memburu udara seiring peningkatan ritme kuluman."Tahan sebentar, Des. Biar seluruh sel sarafmu makin rileks," tutur Teja di sela jeda jilatannya.Teja lalu menjulurkan jar

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   619. Masalah Adaptasi

    Teja menangkup kedua pipi mulus Desy dengan jemari kekarnya yang hangat. Binar mata keemasannya menatap dalam ke balik manik mata bening gadis belia yang kini berdiri pasrah tanpa sehelai benang pun di hadapannya."Kamu sejauh ini udah berapa kali melayani tamu, Des?" tanya Teja lembut dengan nada suara yang tenang, mengarahkan pembicaraan pada masa lalu sang gadis jelita.Desy menundukkan pandangannya sejenak, rona merah tipis merayapi pipi tirusnya sebelum ia kembali menatap Teja dengan kejujurannya."Nggak banyak, Mas. Dalam dua tahun ini total nggak sampai sepuluh. Soalnya mereka juga pada merendahkan status sosialku dan maunya bayar murah," tutur Desy dengan suara parau bercampur kesedihan.Gadis itu mendadak menghentikan kalimatnya, mendongak memandangi wajah tegap Teja dengan sorot mata yang penuh kecemasan."Kenapa, Mas? Mas jijik ya sama aku?" bisik Desy cemas, takut jika fakta masa lalu yang memilukan itu meruntuhkan niat sang pemuda perkasa.Teja mengulas senyum lembut, men

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   618. Saling Menatap

    Desy mendongakkan wajah jelitanya yang putih mulus. Seberkas pendar kebahagiaan menyeruak jernih di dalam sepasang mata bulatnya. Dengan jemari lentik yang masih menempel di dada berotot Teja, gadis belia itu memberanikan diri bertanya dengan suara parau dan lembut."Mas... Mas Teja sudah mau sekarang?" bisiknya dengan nada suara yang teramat halus dan manja, bibir mungilnya yang basah sedikit terbuka menggoda.Teja mengangguk pelan. Binar mata keemasannya memancar penuh kehangatan, menatap dalam ke balik manik mata bening sang dara yang berada di dekapannya."Aku sudah mulai menemukan kedekatan batin denganmu, Des," tutur Teja tulus.Pengabdian yang ditunjukkan Desy sejak fajar menyingsing, kepatuhan alaminya, serta kebahagiaan haru saat melihat adiknya sekolah telah mengunci keyakinan Teja. Ikatan batin yang ia persyaratkan kini telah terjalin sempurna.Mendengar pengakuan jujur dari pria yang dipujanya, rona merah merona merekah indah di sepanjang pipi tirus hingga ke ceruk leher

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status